Pelajari Tsunami, LIPI-IPGP Gelar Ekspedisi Kelautan
Jumat, 07 Jul 2006 15:32 WIB
Jakarta - LIPI akan melakukan ekspedisi kelautan di perairan Indonesia, khususnya sekitar Pulau Simeuleue dan bagian utara Aceh. Lewat kegiatan ini diharapkan bisa diperoleh pengetahuan mengenai tsunami dan cara mengantisipasinya.Ekspedisi kelautan ini merupakan proyek kerjasama antara LIPI dengan Laboratoire de Geosciences Marines, Institute de Physique du Globe de Paris (IPGP). Diperkirakan kegiatan ini menelan biaya hingga 4 juta euro.Demikian diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Hery Harjono dalam jumpa pers di kapal riset Marion Dufresne, Jakarta International Container Terminal II, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (7/7/2006)."Tujuan utama ekspedisi ini adalah untuk memahami struktur geologi zona sismogenik dan proses geodinamika yang memicunya di kawasan sekitar pulau Simeuleue dan bagian utara Aceh," kata Hery.Ekspedisi yang dinamakan Sumatera After Great Earthquake (Sager) ini terdiri atas ekspedisi Sumatera-OBS Cruise yang akan dilakukan pada 8 Juli sampai 3 Agustus, dan Tsunami Survey pada 12-22 Juli.Hery menjelaskan, ekspedisi ini akan meneliti jenis batuan yang ada di dasar laut. Melalui langkah ini bisa terlihat proses gempa yang terjadi di masa lalu. Dengan demikian akan diperoleh analisa dan pembelajaran tentang terjadinya gempa serta tsunami."Kita lihat proses gempa dari bebatuan itu lalu dipelajari dan disimulasikan berapa besar gempa itu dulu terjadi. Sehingga kita bisa tahu, gempa seperti apa yang bisa menyebabkan tsunami, seberapa jauh tsunami masuk ke garis pantai dan langkah antisipasinya," ujar Hery.Ekspedisi ini menggunakan kapal Marion Dufresne yang memiliki daya angkut sampai 850 ribu ton. Kapal dengan panjang 180 meter dan lebar 21 meter mempunyai kecepatan normal 15 knot. Awak kapal terdiri dari 16 kru dan 26 peneliti, yang terdiri dari warga negara Prancis, UN Kingdom, India dan Indonesia.Alat-alat yang akan digunakan antara lain magnetometer untuk mengukur sifat magnetis struktur permukaan laut. Current Temperature Depth untuk melihat sifat fisik air.Echo Sonder untuk mengukur kedalaman laut. Core untuk melihat contoh sedimen laut. Airgun untuk 'menembakkan' gelombang energi, dan ocean bottom seismometer untuk merekam sinyal seismik dari airgun."Biaya untuk satu penilitian mencapai 4 juta euro. Dana itu ditanggung konsorsium di Eropa yang terdiri dari negara-negara Prancis, Inggris dan Jerman," kata Hariadi Permana dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. Dia menjadi salah satu peneliti yang ikut dalam ekspedisi ini.
(djo/)











































