Kawasan Kaliadem Sudah 'Dibuka'
Jumat, 07 Jul 2006 14:26 WIB
Yogyakarta - Pemerintah Kabupaten Sleman masih menetapkan kawasan wisata Kaliadem di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, sebagai kawasan tertutup sejak luncuran awan panas besar 14 Juni lalu. Namun, setelah 24 hari berselang, kawasan itu oleh warga sekitar Desa Kepuharjo dan Desa Umbuharjo Cankringan, sudah 'dibuka' lagi.Masyarakat umum sudah bisa masuk dan mendekat ke wilayah yang hancur tertimbun material Gunung Merapi itu. Namun bila ada masyarakat yang hendak masuk wilayahtersebut, diminta hati-hati dan waspada, karena masih banyak pasir di sekitar bumi perkemahan Bebeng di Kaliadem yang masih panas. Selain itu, pengunjung juga tidak diperbolehkan turun ke sungai Gendol yang menjadi jalur utama luncuran awan panas.Beberapa pintu masuk yang dulunya ditutup portal dan dijaga ketat oleh warga sekitar sudah dibuka lagi. Portal pertama dari arah timur yakni di depan balaiDesa Kepuharjo sudah tidak dijaga warga. Batang bambu yang dijadikan pintu portal dibiarkan terangkat teratas tanda dibuka. Sedang portal lainnya di pertigaan Dusun Jambu dan Ngrangkah Umbulharjo juga tidak dijaga ketat warga, meski masih terpasang tanda larangan "kawasan tertutup". Warga dusun sekitar saat ini membuka tempat parkir bagi kendaraan pengunjung di sekitar Jambu yang ingin menyaksikan Merapi. Untuk sepeda motor dan mobilmasing-masing dikenakan tarif sebesar Rp 3.000 dan Rp 5.000/kendaraan. Dana parkir tersebut digunakan untuk kas dusun setempat. Berdasarkan pantauan detikcom sejak Kamis (6/7/2006) malam hingga Jumat (7/7/2007) pagi, pengunjung baik yang menggunakan sepeda motor maupun mobil sejak pukul20.00 WIB hingga tengah malam terus berdatangan. Meski cuaca di sekitar Dusun Jambu cukup dingin, sekitar 20 derajat Celcius, tidak menyurutkan minat masyarakat untuk datang. Di pagi hari setelah subuh, banyak pengunjung yang mendekat hingga kawasan Bebeng. Beberapa pengunjung mengaku ingin menyaksikan dari dekat wilayah Bebeng yang hancur akibat luncuran awan panas Merapi pada tanggal 14 Juni lalu. Selain itu,mereka juga ingin menyaksikan guguran lava pijar di malam Jumat Kliwon yang jatuh pada Kamis malam. Namun karena cuaca di sekitar puncak Merapi sejak siang hingga malam hari terus berkabut tebal, guguran lava pijar yang turun ke arah Kali Gendol tidak dapat dilihat dengan jelas. Sesekali semburat warna merah tampak samar-samar turun meluncur ke bawah. Meski tidak terlihat jelas karena kabut tebal, suara gemuruh batu berjatuhan terdengar jelas. Salah satu pengunjung, Subagyo (37) warga Bimomartani Kecamatan Ngemplak kepada detikcom menuturkan sebelum Bebeng tertimbun material Merapi, biasanya menyaksikan guguran lava pijar dari tempat itu. Namun setelah dijadikan kawasan tertutup terpaksa pindah ke kawasan Merapi Golf di Umbulharjo.Oleh karena ada informasi di Dusun Jambu dekat Kaliadem sudah dibuka lagi, dia bersama beberapa rekannya kemudian menyaksikan dari Jambu di sebelahbarat Kali Gendol. "Di Jambu sama enaknya kalau menyaksikan luncuran lava pijar dari Dusun Srunen Desa Glagaharjo yang ada di sebelah timur Gendol yangberjarak 7,5 km dari puncak Merapi. Hanya saja kalau di Srunen masih sepi sekali," kata dia.
(asy/)











































