ADVERTISEMENT

Waskita Beton Komitmen Kooperatif di Kasus Korupsi yang Jerat Wanita Emas

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 17:03 WIB
PT Waskita Beton Precast Tbk (Istimewa)
Foto: PT Waskita Beton Precast Tbk (Istimewa)
Jakarta -

PT Waskita Beton Precast Tbk angkat bicara mengenai kasus penyimpangan dan atau penyelewengan dalam penggunaan dana yang menyeret pejabat perusahaannya dan Hasnaeni si wanita emas. PT Waskita Beton Precast Tbk menghormati proses hukum yang berjalan.

"Perusahaan menghormati proses hukum yang berjalan dan memberikan dukungan penuh bagi Kejaksaan Agung demi terselesaikannya perkara ini," kata Corporate Secretary PT Waskita Beton Precast Tbk, Fandy Dewanto, melalui keterangan tertulis, Jumat (23/9/2022).

PT Waskita Beton Precast Tbk berkomitmen untuk kooperatif kepada Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait pengusutan kasus ini. PT Waskita Beton Precast Tbk, lanjut Fandy, siap memberikan data dan informasi yang dibutuhkan.

"Perusahaan juga senantiasa berkomitmen untuk selalu kooperatif kepada Kejaksaan Agung dalam memberikan keterangan, data, maupun informasi yang dibutuhkan," tuturnya.

Fendy menjelaskan, sesuai dengan keterangan Kejagung, dugaan korupsi tersebut terjadi para periode 2016-2020. Dia menegaskan, salah satu tersangka yang berinisial KJH juga tidak lagi bekerja di PT Waskita Beton Precast Tbk.

"Sesuai dengan keterangan Kejaksaan Agung bahwa perkara tersebut terjadi pada periode 2016 - 2020. Dapat kami sampaikan bahwa tersangka yang telah ditetapkan oleh Kejaksaan Agung atas nama
Saudara KJH sudah tidak lagi menjadi bagian dari Perusahaan (nonaktif) sejak Mei 2021," ungkap Fendy.

Lebih lanjut, Fendy menegaskan, perusahaannya akan melakukan perbaikan internal. PT Waskita Beton Precast Tbk, kata dia, juga akan terus meningkatkan kualitas good corporate governance (GCG).

"Perusahaan akan senantiasa melakukan langkah perbaikan tata kelola dan pengendalian internal agar perusahaan dapat terus meningkatkan kualitas implementasi GCG, serta dapat bertumbuh dan berkinerja baik," kata dia.

Seperti diketahui, Kejagung menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus penyimpangan dan atau penyelewengan dalam penggunaan dana PT Waskita Beton Precast, Tbk pada 2016-2020. Mereka di antaranya pejabat dan pegawai PT Waskita Beton Precast hingga Hasnaeni si wanita emas.

Berikut daftar tersangka tersebut:

1. Direktur Pemasaran PT Waskita Beton Precast Tbk periode 2016-2020, Agus Wantoro
2. General Manager Pemasaran PT Waskita Beton Precast Tbk periode 2016-Agustus 2020, Agus Prihatmono
3. Staf Ahli Pemasaran (expert) PT Waskita Beton Precast, Benny Prastowo
4. Pensiunan Karyawan PT Waskita Beton Precast Tbk, Anugrianto
5. Direktur Utama PT Misi Mulia Metrical, Hasnaeni
6. Pensiunan Karyawan BUMN PT Waskita Beton Precast, KJH
7. Mantan Direktur Utama PT Waskita Beton Precast, Jarot Subana (JS)

Dalam kasus ini, JS tidak ditahan Kejagung karena telah menjalani pidana di Lapas Sukamiskin karena terjerat dalam kasus korupsi yang diusut KPK terkait pelaksanaan subkontrak fiktif pada proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya.

Kuntadi mengatakan Hasnaeni atau 'wanita emas' yang merupakan Direktur PT Misi Mulia Metrical (PT MMM) diketahui menawarkan pekerjaan ke PT Waskita Beton Precast dengan dalih terlibat pembangunan jalan Tol Semarang-Demak senilai Rp.341.692.728.000. Hasnaeni menawarkan pekerjaan kepada PT Waskita Beton Precast dengan syarat PT Waskita yang menyetorkan sejumlah uang kepada PT Misi Mulia Metrical.

Dirdik Jampidsus Kejagung, Kuntadi, mengatakan, demi mendapatkan proyek pekerjaan itu, PT WBP menyanggupi permintaan Hasnaeni. PT WBP melalui General Manager-nya berinisial HJ, yang juga ditetapkan tersangka, menyetor Rp 16,8 triliun ke PT MMM.

"PT WBP menyanggupi dan selanjutnya oleh tersangka KJ selaku GM PT WBP dibuatkan invoice pembayaran seolah-olah PT WBP membeli material kepada PT MMM, sehingga atas dasar tagihan fiktif dari PT MMM maka PT WBP menyetor Rp 16.844.363.402 (miliar) yang belakangan diketahui bahwa uang tersebut dipergunakan untuk kepentingan pribadi," paparnya.

Kejagung menyebut uang dari PT WBP yang telah ditransfer ke rekening PT MMM tersebut yang sedianya dipergunakan untuk membayar setoran modal ke konsorsium PT Pembangunan Perumahan Semarang-Demak akan tetapi ternyata uang tersebut digunakan secara pribadi oleh Tersangka Hasnaeni.

"Kasus ini merupakan pengembangan dan merupakan bagian dari tindak pidana korupsi, jadi di PT WBP yang total senilai Rp 2,5 triliun," imbuhnya.

Selain itu, Kejagung menemukan indikasi penerbitan SCF dari invoice fiktif PT WBP.

"Adapun dari penanganan perkara ini pun berhasil kita kembangkan adanya indikasi penerbitan SCF yang didasarkan pada invoice fiktif pada PT Waskita Karya senilai kurang lebih 2 triliun, dan kasus ini sedang kita dalami untuk pengembangannya kita tunggu," tutur Kuntadi.

Simak video 'Kejagung Jelaskan Perkara Korupsi yang Bikin 'Wanita Emas' Jadi Tersangka':

[Gambas:Video 20detik]



(mae/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT