BRR Aceh-Nias Minta Kayu Didatangkan dari Luar Negeri
Kamis, 06 Jul 2006 18:27 WIB
Medan - Persediaan kayu di dalam negeri tidak bisa diandalkan. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias pun meminta kayu didatangkan dari luar negeri demi mengurangi potensi illegal logging.Permintaan ini ditujukan kepada LSM-LSM asing yang merehabilitasi dan merekonstruksi Aceh dalam bentuk pembangunan rumah."Untuk perbaikan dan pembangunan rumah korban tsunami di Aceh, kebutuhan kayu memang cukup tinggi," kata Programming and Planning Advisor BRR Aceh-Nias, Kasru Susilo kepada wartawan di Medan, Kamis (6/7/2006).Dituturkan dia, setiap rumah yang akan dibangun setidaknya membutuhkan satu meter kubik kayu, sementara rumah yang akan dibangun sekitar 120 ribu unit. Untuk pengadaan kayu sebanyak itu, tidak bisa sekaligus. Sementara pembangunan harus dilakukan dengan cepat."Sebab itu mendatangkan kayu dari luar negeri merupakan salah satu solusi. Direncanakan dari luar negeri akan didatangkan 50 ribu meter kubik. Yang sudah tiba di Aceh sampai saat ini sekitar 30 ribu meter kubik. Dari kayu yang sudah sampai itu, yang sudah dipergunakan sekitar 60 persennya saja," urai Kasru.Dalam prakteknya, kayu yang didatangkan itu juga harus dipastikan bukan kayu asal Indonesia yang telah dijual di luar negeri. Kayu-kayu yang dari luar negeri itu, seperti dari Amerika, Kanada, Australia maupun negara-negara Eropa, merupakan kayu lokal dari negara bersangkutan. Hal itu dapat dibuktikan dengan mudah karena karakteristiknya berbeda dengan kayu asal Indonesia yang berjenis tropikal.Pada tahun 2006 ini, lanjut Kasru, rencananya BRR akan membangun 12 ribu rumah yang diharapkan selesai pada akhir tahun. Dari total kebutuhan pembangunan 120 ribu rumah di Aceh, BRR hanya mengerjakan sekitar 10 persennya saja."Selebihnya merupakan donasi dari lembaga asing. Mereka melakukan langsung rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut, namun tetap berkoordinasi dengan BRR selaku regulator," kata Kasru.
(sss/)










































