Adu Perspektif, Adakah Skenario 'Mereka' Jegal Pencapresan?

ADVERTISEMENT

Adu Perspektif, Adakah Skenario 'Mereka' Jegal Pencapresan?

Edward F. Kusuma - detikNews
Rabu, 21 Sep 2022 12:44 WIB
Jakarta -

Partai Demokrat kembali masuk ke arena politik dengan melempar isu rekayasa Pemilu 2024 hingga penjegalan capres. isu ini menyeruak di tengah kesibukan partai politik mencari pasangan koalisi.

Pertama kali isu ini berembus melalui platform media sosial. Saat itu, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri rapat pimpinan nasional (rampinas) Partai Demokrat 2022 di Jakarta Pusat, Kamis (15/9).

"Para kader, mengapa saya harus turun gunung menghadapi Pemilihan Umum 2024? Saya mendengar dan mengetahui bahwa ada tanda-tanda Pemilu 2024 bisa tidak jujur dan tidak adil. Konon, akan diatur dalam pemilihan presiden nanti yang hanya diinginkan oleh mereka dua pasangan capres cawapres saja yang dikehendaki oleh mereka. Informasinya, Demokrat sebagai oposisi jangan harap bisa mengajukan capres-cawapresnya sendiri bersama koalisi tentunya," kata SBY seperti dilihat detikcom di akun Tiktok @pdemokrat.sumut, Sabtu (17/9/2022).

Dalam pidato lanjutannya, Presiden ke-6 Indonesia itu mencium bau rekayasa pemilu. Terkait hal itu, SBY menyesalkan bila hal tersebut benar-benar terjadi. Sebab, situasi seperti ini belum pernah terjadi selama dua kali kepimpinan Partai Demokrat.

"Ingat, selama 10 tahun dulu kita di pemerintahan 2 kali menyelenggarakan pemilu. Selama Pilpres, Demokrat tidak pernah melakukan kebatilan seperti itu," ujarnya.

Pernyataan SBY seolah menabuh genderang perang dengan partai koalisi pemerintah. Adanya isu rekayasa pemilu hingga membuat SBY turun gunung pun ditanggapi Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

"Setahu saya, beliau tidak pernah lagi naik gunung. Jadi turun gunungnya Pak SBY sudah lama dan berulang kali. Monggo turun gunung. Tetapi kalau turun gunungnya itu mau menyebarkan fitnah kepada Pak Jokowi, maka PDI Perjuangan akan naik gunung agar bisa melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan oleh Pak SBY. Sebab, informasi yang diterima Pak SBY sangat tidak tepat. Jadi hati-hati kalau mau ganggu Pak Jokowi," ujar Hasto.

Hasto kemudian menyinggung soal Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), anak SBY yang juga Ketum Partai Demokrat. Hasto meminta agar pencalonan AHY di pilpres tidak dijadikan indikator penilaian.

"Bisa tidaknya Demokrat mencalonkan AHY dalam pilpres jangan dijadikan indikator sebagaimana tuduhan adanya skenario Pemerintahan Pak Jokowi untuk berbuat jahat dalam pemilu," paparnya.

Pernyataan itu membuat anggota PDIP dan Demokrat saling serang di tengah pencarian koalisi. Hingga akhirnya, isu rekayasa pemilu melebar ke penjegalan Anies Baswedan sebagai capres yang diusung koalisi NasDem, PKS, dan Demokrat. Anies enggan menanggapi dengan menolak komentar.

"Saya nggak komentar dulu dah. Nggak komentar dulu," kata Anies Baswedan di Hotel JS Luwansa Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (17/9).

Benarkah ada skenario rekayasa Pemilu 2024? Siapakah dalangnya hingga membuat SBY turun gunung? Adakah hubungan rekayasa pemilu ini dengan penjegalan Anies Baswedan sebagai capres 2024? Semua itu dibahas dalam acara Adu Perspektif malam ini dengan topik "Adakah Skenario 'Mereka' Jegal Pencapresan?"

Menghadirkan Panda Nababan (politikus senior PDI Perjuangan), Effendi Gazali (pakar komunikasi politik), Herman Khaeron (Kepala BPOKK DPP Partai Demokrat), Zulfan Lindan (politikus senior Partai NasDem), dan Nyarwi Ahmad (pakar komunikasi politik UGM), saksikan secara langsung Adu Perspektif di kanal YouTube serta web detikcom.

Simak juga 'Siapa Pihak yang Coba Jegal Prabowo Nyapres?':

[Gambas:Video 20detik]



(edo/vys)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT