Derita Eks Pekerja PT DI
Sang Istri Pun Jadi Tukang Ojek
Rabu, 05 Jul 2006 15:33 WIB
Bandung - Ibu Lilis betul-betul memahami bahwa hidup adalah perjuangan. Saat suami tersayang di-PHK dari PT Dirgantara Indonesia (DI), hati Lilis tentu sangat sedih. Penderitaan terus dialaminya. Saat ini suaminya sakit dan dirinya terpaksa menjadi tukang ojek untuk menghidupi keluarganya. Lilis terlihat dalam aksi unjuk rasa massa Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan PT DI (SPFKK PT DI) di Gedung Sate, Jl. Diponegoro, Bandung, Rabu (5/7/2006). Dalam aksi unjuk rasa melepas rombongan peserta longmarch menuju Istana Kepresidenan di Jakarta itu, Lilis juga turut berorasi. Dia memompa semangat istri-istri mantan pekerja PT DI. "Saya mengojek sekarang. Ibu-ibu harus tetap semangat. Jangan lemah!" teriak Lilis. Bagaimana perjuangan Ibu Lilis untuk bertahan hidup? Berikut penuturannya kepada detikcom: "Suami saya telah berhenti bekerja di PT DI tiga tahun yang lalu. Suami saya hanya menerima pesangon sebesar Rp 50 Juta. Saat ini uang pesangon tersebut telah habis. Uang pesangon tersebut kami gunakan untuk keperluan biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah anak-anak, dan membeli sebuah motor. Suami saya saat ini tampak lemah. Malah baru menderita sakit jantung selama 2 bulan terakhir. Dia sudah tidak bisa bekerja lagi dan tidak kuat. Terpaksa saya selama 3 tahun terakhir ini harus bekerja menghidupi kebutuhan keluarga. Dua tahun pertama saya bekerja sebagai seorang sekuriti di RS Santo Yusuf di Cicadas Bandung. Kemudian satu tahun ini bekerja sebagai tukang ojek di Padasuka, Cicaheum, Bandung. Banyak dukanya. Tapi kami tetap harus bersabar dan berjuang. Sesudah salat subuh sekitar pukul 5 pagi saya menyalakan motor bebek Honda Kharisma saya ke tempat pemangkalan ojek. Pulang ke rumah sekitar pukul 17.00 sore hari. Kebanyakan penarik ojeg adalah laki-laki. Awal pertama kali saya mengojek, banyak yang mencibir dan mengejek saya. Sadis! Dari teman-teman, tetangga termasuk dari kalangan pengojek. Malah saya sempat berkelahi sebanyak 2 kali karena mereka sudah keterlaluan mengejeknya. Saya sakit hati. Dari ojek, tiap hari saya mendapatkan uang sebesar Rp 80 Ribu. Itu saya gunakan untuk keperluan sehari-hari. Rp 40 Ribu saya tabung, 20 Ribu untuk anak-anak-anak, sisanya untuk makan. Gizi anak-anak, saya perhatikan serius. Di rumah, saya juga buka toko, menjual peralatan alat motor, ban, pemoles, sabun motor. Lumayan hasilnya. Pemerintah sekarang tidak tanggap. Padahal demi anak, saya harus bekerja keras. Saya tidak malu. Kepada pemerintah, tolong segera selesaikan masalah hak pensiunan kami. Hari ini saya baru dapat uang sebesar Rp 40 Ribu dari hasil mengojek tadi pagi. Tapi uang itu sudah habis lagi untuk membayar uang pendaftaran sekolah dan bayar listrik. Tapi, alhamdulillah, sekarang saya sudah tidak punya utang. Urusan biaya sekolah putra dan putri saya yang duduk di SMP dan SD juga telah selesai. Saya habis Rp 2 juta untuk urusan sekolah anak saya."
(asy/)











































