Isak Tangis Iringi Longmarch ke Istana Presiden SBY
Rabu, 05 Jul 2006 15:11 WIB
Bandung -
50 Eks karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI) melakukan longmarch dari Bandung menuju Istana Kepresidenan di Jakarta. Mereka ingin mengadukan hak-hak mereka yang hingga kini masih belum jadi kenyataan. Isak tangis mengiringi pelepasan mereka dari Gedung Sate, Bandung. Para peserta long march yang berasal dari Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan PT DI (SPFKK PT DI) ini meninggalkan Gedung Sate, Jl. Diponegoro, Bandung, Rabu (5/7/2006) sekitar pukul 10.45 WIB. Mereka dilepas oleh ratusan anggota SPFKK PT DI. Mereka akan menempuh jarak sekitar 250 KM. Yang agak mengejutkan, ada 3 kaum ibu yang turut serta dalam rombongan ini. Rencananya, sesampai di Istana Kepresidenan, mereka akan menyampaikan secara langsung sebuah surat untuk Presiden SBY. Mereka juga akan menyerahkan empat buah obor mati. Dalam longmarch, mereka membawa tas yang berisi pakaian, sarung, peralatan salat, sandal, minuman air mineral, dan gula merah. Rata-rata peserta berusia sekitar 40 hingga 50 tahun. Mereka hanya membawa uang seadanya. Ada yang berbekal Rp 10 ribu, 50 ribu, atau bahkan ada salah seorang peserta yang tidak membawa uang sama sekali. Pakaian peserta longmarch juga seadanya. Ada peserta yang memakai kaos berwarna oranye SPFKK PT DI, ada yang berkacamata hitam, bertopi, bersandal, dan ada pula yang memakai sepatu lars hitam. Mereka akan melewati rute Gedung Sate Bandung-Tol Rajamandala-Ciherang Cipanas-Ciawi Gadog-Cililitan-Jakarta. Ada sekitar 4 pos yang akan dilalui peserta longmarch. Di tiap pos tersebut, mereka akan beristirahat selama satu hari dan dicek kondisi kesehatannya. "Aksi ini puncaknya di Istana Negara. Kami akan menginap di sana. SBY harus segera menuntaskan persoalan hak pensiun yang hingga saat ini belum selesai," ujar Pengurus SPFKK PT DI, Dedi Supriatna saat ditemui sebelum melepas rombongan peserta longmarch. Ide aksi ini, menurut dia, datang langsung dari anggota SPFKK PT DI seminggu yang lalu. Mereka menilai bahwa pemerintahan SBY-JK tidak serius dalam menyelesaikan persoalan ini. Menurut dia, birokrasi lembaga pemerintahan SBY-JK lambat. Sejumlah pembahasan hak pensiunan yang dilakukan antara Kementerian BUMN, direksi PT DI dan SPFKK PT DI tak segera membuahkan hasil. "SBY harus menyalakan obor yang kami bawa. Obor mati ini pertanda matinya supremasi hukum kita," ujar Dedi. Dari Bandung, peserta longmarch membawa sekitar 4 obor mati yang terbuat dari bambu yang dicat warna merah putih. Aksi longmarch tidak akan dikawal oleh pihak kepolisian. Selama perjalanan, rombongan hanya dikawal oleh sejumlah anggota SPFKK PT DI yang mengendarai sepeda motor.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































