Gesang Terima Royalti 'Bengawan Solo' Rp 24,7 Juta dari Jepang
Rabu, 05 Jul 2006 14:57 WIB
Solo -
Musisi keroncong senior, Gesang, kembali menerima penghargaan untuk karya ciptanya. Jasrac (lembaga karya cipta di Jepang) menyerahkan royalti lagu 'Bengawan Solo' yang memiliki banyak penggemar di negeri matahari terbit tersebut. Dana itu dikumpulkan dari pembayaran royalti sepanjang tahun 2005.Pembayaran uang sebesar Rp 24.739.114 itu diberikan Jasrac melalui Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI). Penyerahan dilakukan kepada Gesang di rumah kerabat Gesang di Kampung Kemlayan, Solo, oleh Business Development Office YKCI Buce Dominique Aunalal dan kuasa hukum YKCI, Mahendradatta.Menurut Buce, sejak berdiri tahun 1991, YKCI setiap tahun menyerahkan royalti lagu-lagu karya Gesang. Khusus untuk royalti tahun 2005 bagi Gesang, YKCI hanya menerima dana dari Jasrac untuk lagu 'Bengawan Solo' yang diperdengarkan secara umum oleh penggemarnya di Jepang.Buce mengatakan sebagai lembaga resmi yang berwenang menangani hak cipta, YKCI selalu dipercaya negara lain untuk meyerahkan royalti lagu kepada pengarangnya. YKCI, menurutnya, bergabung dalam organisasi lembaga karya cipta dari 111 negara yang berpusat di Prancis."Sejujurnya kita wajib malu kepada Jepang yang mampu menghargai hak orang lain, terutama hal intelektual, sedemikian besarnya. Kalau publik di Indonesia mau jujur, pasti YKCI juga menerima royalti dari pihak Indonesia untuk Pak Gesang," ujar Mahendradatta usai penyerahan uang royalti, Rabu (5/7/2006).Atas royalti yang diberikan itu, Gesang mengaku bangga atas penghargaan yang diberikan. Selain itu dia mengimbau kepada seluruh pihak untuk menghentikan tindak pembajakan lagu. "Pembajakan itu harus dihentikan agar semua yang hidup bisa saling menghargai," ujarnya.Gesang Martohartono, demikian nama lengkap maestro keroncong dan langgam yang sulit dicari gantinya itu. Dia dilahirkan di Kampung Kemlayan, Solo, 1 Oktober 1917. Pengabidannya yang tulus kepada musik tidak diragukan lagi meskipun dari itu semua dia nyaris tidak mendapat apa-apa.Gesang yang miskin dengan rumah reot namun banyak kedatangan penggemar dari luar negeri itu akhirnya menggugah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 1980 dia dihadiahi sebuah rumah di Perumnas Palur, Karanganyar.Sejak tahun 2001 rumah itu ditinggalkannya dan dia memilih tinggal di rumah adiknya di Kemlayan. Alasannya karena semakin tua dan hidup sendirian sehingga kerabatnya mengkhawatirkan kesehatannya. Gesang memang memilih hidup sendiri sejak perkawinannya kandas tahun 1963 karena tidak dikaruniai anak.
(nrl/)










































