Jakarta 1, dari Jenderal ke Jenderal
Rabu, 05 Jul 2006 10:38 WIB
Jakarta - Medio tahun depan, untuk pertama kalinya Jakarta akan memiliki gubernur pilihan rakyat lewat coblosan pilkada. Sejumlah orang sudah mengincar kursi Jakarta 1, mulai dari tokoh nasional, hingga tokoh lokal. Mulai tokoh sipil, hingga militer.Deretan nama-nama yang sudah antre antara lain, ekonom beken Faisal Basri MA, Wagub incumbent (masih menjabat) Dr Fauzie Bowo, Letjen Purn Bibit Waluyo, Letjen Purn Agum Gumelar dan senator Sarwono Kusumaatmadja. Letjen Purn Hendropriyono disebut-sebut juga akan mendekati PDIP. Sedangkan PKS melirik Komjen Pol Adang Daradjatun.Bisa jadi, barisan nama-nama itu kian bertambah. Namun yang jelas terlihat, dari nama-nama yang tersebut di atas, jenderal tampak mendominasi. Praktis kalangan non-bintang hanyalah Faisal Basri, Fauzie Bowo dan Sarwono.Jenderal memang tidak jauh dari sejarah gubernur Jakarta. Sejak Jakarta dipimpin seorang gubernur pada tahun 1960, provinsi yang sekaligus ibukota Indonesia ini langsung dipimpin oleh jenderal yaitu Mayjen Purn Sumarno. Sumarno memimpin periode 1960-1965.Gubernur kedua berasal dari sipil, yaitu Henk Ngantung, pada 1964-1965. Henk Ngantung dikenal sebagai seniman dan dialah yang membuat sketsa Tugu Selamat Datang yang hingga kini menjadi simbol Kota Jakarta di Bundaran HI. Henk terpuruk seiring dengan jatuhnya rezim Soekarno. Dia diciduk tanpa diadili seiring pemberantasan pada PKI pada 1965. Henk meninggal dunia pada 1991 dalam kondisi miskin dan sakit serius.Sepeninggal Henk, Letjen Purn Ali Sadikin memimpin Jakarta pada 1966-1977. Lalu disusul Letjen Tjokropranolo 1977- 1982. Lalu Mayjen R Soeprapto (1982-1987) . Kemudian dilanjutkan Letjen Purn Wiyogo Atmodarminto (1987-1992) , Letjen Purn Surjadi Soedirdja (1992-1997) dan Letjen Purn Sutiyoso memimpin dua periode yaitu 1997 hingga 2007.Setelah Sutiyoso lengser, apakah Jakarta akan kembali dipimpin jenderal? Kita tunggu saja!
(nrl/)











































