Gus Dur: Banyak Yang Bisa Dipetik dari Wayang
Rabu, 05 Jul 2006 00:21 WIB
Yogyakarta - Nonton pertunjukkan wayang kulit adalah kesukaan mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selagi sempat. Saat berada di Yogyakarta, Selasa (4/7/2006) pukul 21.30 WIB, Gus Dur pun menyaksikan pertunjukkan wayang kulit dengan Ki Timbul Cermomanggolo. Namun sebelum menyaksikan pertunjukkan dengan lakon "Semar Gugat" itu, Gus Dur didaulat untuk menyampaikan orasi budaya. Saat berorasi, Gus Dur didampingi dalang Ki Timbul Cermomanggolo dan budayan KRHT Kresna Handayaningrat.Di depan Regol (pintu gerbang) makam raja Mataram Panembahan Senopati di Kotagede yang disaksikan oleh ribuan orang, Gus Dur bercerita bila menonton wayang itu salah satu kegemarannya sejak kecil hingga sekarang ini. Bahkan sudah berkali-kali di Yogyakarta dia menyaksikan pertunjukkan wayang dengan dalang Ki Timbul. Menurutnya, ada banyak hal yang bisa dipetik dari cerita lakon pewayangan itu. Antara lain masalah pertempuran dan permusuhan keluarga Pandawa dan Kurawa.Menurut Gus Dur, saat ini orang Indonesia dalam kondisi yang salah kaprah menyukai hal-hal yang bersifat institusionalisasi atau dilembagakan. Dengan kata lain lebih menyukai apa yang terlihat daripada apa yang ada di dalamnya. Padahal masalah seperti justru sering menimbulkan berbagai kesulitan. "Contohnya di birokrasi kita, semua serba birokratis. Ini akan menyulitkan kita sendiri," katanya.Oleh karena serba birokratis itu katanya, masalah korupsi di negeri ini juga semakin sulit untuk diberantas. Lembaga-lembaga yang ada dalam birokrasi itu akan semakin kuat. Dengan demikian bila tidak diberantas kepentingan administrasinya akan lebih mementingkan ketimbang lainnya. "Itu yang terjadi sekarang ini," katanya.Seusai menyampaikan orasi budaya, sebelum menonton wayang, Gus Dur menerima abu yang diambil Gunung Merapi dan air dari Laut Selatan. Air dan abu yang telah dijadikan satu melalui sebuah tarian Bedaya Tulak Tanggul yang dipimpin penari Jiyu Wijayanti. Setelah diterima oleh Gus Dur, air dan abu itu diserahkan kepada Ki Timbul untuk dibacakan mantra penolak bala.Setelah pembacaan mantra, Gus Dur yang didampingi oleh Ketua DPW PKB DIY, H. Agus Wiyarto serta sejumlah seniman dan tokoh masyarakat Yogyakarta, Klaten, Solo menyaksikan wayang kulit dari salah satu bangsal yang ada di sisi utara pintu gerbang makam Kotagede. Sedangkan ribuan warga duduk secara lesehan di depan maupun di belakang kelir wayang.Sebelumnya sejak pukul 19.30 WIB acara bertajuk "Ritual Sadar Alam" yang digelar Forum Seniman Gumregah itu dipergelarkan salawatan dari kelompokAl-Qhoid dari Kotagede, tarian jiwa oleh Sitras Anjilin dari Tutup Ngisor Kecamatan Dukun Magelang, musik dan tari segoara gunung oleh Memet Chaerul Slamet, Yuniarti dan Agung Gunawan, musik panuwunan oleh seniman Yasudah dari Solo dan Terbangan Mantram Mataraman oleh Pardiman Djojonegoro.
(mar/)











































