ADVERTISEMENT

Pendiri Drone Emprit Ungkap Bahaya Kebocoran Data yang Diungkap Bjorka

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Rabu, 14 Sep 2022 22:55 WIB
Jakarta -

Founder Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi mengatakan kemunculan hacker Bjorka yang membocorkan data pribadi sejumlah pejabat menunjukkan adanya kelemahan pada perlindungan data. Dia menyebut data yang dibocorkan oleh Bjorka itu bisa berbahaya.

"Ketika ada Bjorka, menunjukkan kelemahan itu yang bilang tadinya (data) aman ternyata nggak aman, itu tepuk tangan, netizen tepuk tangan karena bisa mewakili kekesalan netizen kepada pemerintah. Netizen nggak sadar bahwa yang dibongkar itu data-data netizen sendiri, data publik dan itu bisa berbahaya. Ketika itu berlanjut kan, dari pejabat satu denial, dikeluarin buktinya, pejabat kedua denial keluarin lagi buktinya sampai nggak berhenti sampai sekarang nggak berhenti. Jadi kehebohannya itu luar biasa respons kita ini yang sifatnya denial-denial itu dari pemerintah itu yang kita lihat secara komunikasi publiknya kurang bagus," kata Ismail dalam program Adu Perspektif detikcom bersama Total Politik bertajuk 'Selancar Bjorka hingga Isu Tegang Dua Jenderal' yang disiarkan melalui YouTube, Rabu (14/9/2022).

Ismail membeberkan dari data yang dibocorkan itu apabila dikumpulkan bisa terbentuk sebuah big data. Dari data nomor telepon yang bocor bisa diperoleh form book seseorang yang berisikan nama keluarga, hingga orang tua serta alamat lengkap.

"Pertama kita punya data registrasi, di registrasi itu yang penting ada dua, nomor telepon HP dan kemudian NIK. Kalau hanya dengan data ini saja agak susah, ah, untuk apa sih hanya dua link data ini saja kan. Tapi kalau saya hubungkan biasa big data itu kita gabungkan berbagai macam sumber data jadi satu data pencarian. Kemudian saya gabungkan dengan DPT. Kalau di data DPT itu kan ada NIK, nama kita, nama orang tua, istri, nama anak, alamat, tanggal lahir" ujarnya

"Jadi kalau misalnya sekarang ini saya tahu nomornya Mas Ari (pembawa acara Adu Perspektif) gitu, saya bikin data base dua itu saya gabungin. Dan pas bagian saya keluarin NIK dapat nomor telepon, dari nomor telepon saya cari NIK, dari NIK saya cari ke DPT dapat semuannya. Cukup dengan nomor ini saya dapat form book saya bisa tahu ini keluargannya siapa, alamatnya di mana, nama ibu siapa," lanjutnya.

Ismail menjelaskan lewat data tersebut lah kemungkinan adanya tindakan penipuan bisa terjadi. Salah satunya penipuan transaksi perbankan.

"Dengan data itu kan saya bisa. Sistem perbankan kita kan modelnya masih telepon ya, pak ini nomor saya kehilangan kartu kan misalnya kayak gitu, nomor mana yang dipakai, nama ibu nya siapa itu password kita untuk perbankan dan itu sudah tersebar, jadi passwordnya bukan lagi password yang susah dibacakan, tapi informasi social enginering yang tadinya kita nyarinya harus googling dulu, lihat CV dulu, sekarang udah nggak perlu, di depan mata semua itu bisa dipakai itu kan," jelasnya.

Ismail menyampaikan hanya dengan mendapat nomor HP, seseorang bisa melakukan penipuan. Dia menyebut target penipuan adalah mereka yang kurang memiliki edukasi.

"Buat orang yang mau nipu, dia butuh nomor telepon, nama keluarga dan segala macam. Misalnya penipu sekarang cerdas dia pakai program komputer diblash, saya ambil saya beli seribu orang seribu nomor. Templatenya sudah jelas ada ini kecelakaaan misalnya dan segala macam atau hubungi saya mau nggak kebutuhan ini itu segala macam," ucapnya.

"Dari katakan seribu, 10 persen saja (tertipu), 90 persen dari seribu orang itu pintar, sadar, dia sudah educated, tapi 10 persen itu kakek-kakek nenek nenek yang ditakut takuti dia apa percaya, oh itya ya ini cucuk saya. Nanti ada kecelakaan transfer duit Rp 5 juta, dari seribu dapet sekitar 100-an kan misal itu satu hari dikali Rp 5 juta. Hari berikutnya seribu lagi. Seandainya sehari itu bukan seribu yang diblash itu, 10 ribu, 100 ribu kan datanya banyak jutaan," imbuhnya.

(dek/knv)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT