Faisal Belajar Lafalkan PDI Perjuangan dengan Benar
Selasa, 04 Jul 2006 17:01 WIB
Jakarta - Ekonom Faisal Basri sudah mantap untuk merapat ke PDI Perjuangan (PDIP) untuk menjadi calon orang nomor 1 di DKI Jakarta. Mulai sekarang pun, mantan Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) belajar melafalkan nama partai banteng itu dengan baik dan benar. Saat bertandang ke markas detikcom pada Senin (3/7/2006) malam, Faisal masih belepotan menyebutkan PDI Perjuangan. Berkali-kali dia sering menyebutkan PDIP. Padahal, istilah PDI-P sudah diharamkan oleh Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri bagi para kadernya. Faisal juga mengakui istilah yang benar PDI Perjuangan, bukan PDIP. "Saya juga baru tahu kalau istilah yang benar PDI Perjuangan baru kemarin-kemarin ini," ujar ekonomi ini sambil terkekeh. Meski sudah berusaha berhati-hati mengucapkan nama partai yang baru saja 'dinikahinya', dalam acara ini, Faisal masih juga sering keseleo. Dia sering mengulangi istilah PDIP, dengan PDI Perjuangan, sehingga kadang-kadang Faisal jadi tersipu. "PDIP...eh PDI Perjuangan," ralatnya buru-buru.Mengenai modal untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, Faisal salah satunya menekankan bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi teladan yang baik. Saat ditanya mengenai kebiasaan merokoknya terkait dengan Perda Kawasan Bebas Rokok yang dicanangkan oleh Sutiyoso, Faisal mengaku akan mendukung Perda itu. "Ada yang bilang, kalau saya jadi gubernur, nanti Perda Anti Rokok akan dicabut. Itu tidak benar sama sekali. Saya akan terus melanjutkan Perda ini," ujar ayah tiga anak ini. Faisal yang mengaku setiap harinya menghabiskan 1 bungkus lebih A Mild, sebenarnya sudah ingin untuk berhenti merokok. "Pinginnya sih berhenti, tapi belum bisa," kata dia jujur. Meski begitu, Faisal mengaku mengikuti aturan yang berlaku saat merokok. Dia mengaku tidak pernah merokok di tempat umum yang memang dijadikan larangan merokok. Dia juga tidak merokok di dalam rumah. "Kalau di rumah, saya merokok selalu di luar. Jadi, ruang merokok untuk saya makin sempit," ujar dia. Faisal juga setuju terhadap pelarangan iklan rokok di jalan-jalan protokol di Jakarta. Bahkan, dia memimpikan nantinya tidak ada lagi iklan rokok di semua jalan di Jakarta.
(asy/)











































