Riset Elfahmi di Universitas Groningen
Rekayasa Bioteknologi Angkat Jamu Ampuh Berlipat
Selasa, 04 Jul 2006 15:23 WIB
Den Haag - Senyawa berkhasiat jamu bisa dilipatgandakan dan dibuat standar. Bahkan meniran dan kemukus berpotensi menjadi bahan obat antikanker. Sukses riset Elfahmi ini diganjar dengan titel PhD.Jamu alias ramuan tanaman obat sudah masyhur digunakan secara turun-temurun. Namun sayangnya warisan nenek moyang ini belum bisa ditunjuk untuk farmakoterapi, menjadi obat standar. Kendalanya, karena rendahnya senyawa aktif biologis (metabolit sekunder) dan belum ada standardisasi.Hasil riset yang dilakukan Elfahmi di Universitas Groningen bakal membuat kendala seperti itu tinggal masa lalu. Dosen biologi farmasi ITB yang mengambil program S3 di Universitas Groningen Belanda itu meneliti dua tanaman obat yang sering digunakan sebagai komponen jamu di Indonesia, Phyllanthus niruri L (meniran) dan Piper cubeba L (kemukus). Meniran, seperti diketahui, seluruh bagiannya bisa digunakan untuk mengobati gonorrhea, sipilis, nephralgia, diare, demam dan tetanus. Daunnya digunakan untuk mengobati epilepsi, malaria, konstipasi, hipertensi dan kelainan menstruasi. Sedangkan kemukus, bijinya digunakan untuk mengobati gonorrhea, disentri, sipilis, sakit pada perut, diare, enteritis dan asma. Dalam risetnya, Elfahmi melakukan pendekatan fitokimia dan rekayasa genetik. Hasilnya, dari proses fitokimia menunjukkan bahwa meniran ternyata menghasilkan lignan, suatu senyawa aktif yang sangat ampuh. Lebih dari itu, pria kelahiran Padang, 25/4/1969, dari pasangan M. Yaman dan Emma itu berhasil mengisolasi dua senyawa lignan yang sebelumnya tidak ditemukan pada tanaman itu, sekaligus memurnikannya. Senyawa lignan temuan baru dalam meniran tersebut yaitu cubebin dimetileter dan satunya lagi urinatetralin. Untuk senyawa yang kedua sebelumnya sudah dilaporkan ada pada Phyllanthus urinaria (meniran abang/merah, red).Elfahmi juga membuktikan, bahwa penambahan senyawa-antara asam ferulat (0,5 mM) dan asam kafeat (0.5 mM) untuk biosintesis lignan kepada kultur sel meniran, ternyata dapat menstimulasi peningkatan produksi cubebin dimetileter hingga 0.7 mg g-1 berat kering (kontrol sel hanya 0.1 mg g-1 berat kering) dan urinatetralin hingga 0.3 mg g-1 berat kering (kontrol sel hanya 0.2 mg g-1 berat kering). Senyawa ampuh lignan juga ditemukan dalam tanaman kemukus. Elfahmi membuat dan membandingkan profil senyawa lignan dari biji, daun dan batang kemukus dengan menggunakan khromatografi gas (GC), khromatografi gas-spektrometer masa dan khromatografi cair tegangan tinggi. Hasilnya, tigabelas lignan ditemukan pada biji, limabelas pada daun dan lima pada batang.Di samping lignan, biji kemukus ternyata juga menghasilkan minyak atsiri, yang biasa digunakan sebagai bahan pembuat kosmetik serta untuk tujuan pengobatan. Beberapa aktifitas farmakologi dari minyak atsiri antara lain sebagai antimikroba, antiherpes simplex, antijamur, obat jantung, dan proteksi lambung. Dari biji dapat diidentifikasi 105 komponen, sebesar 63,1% dari minyak atsiri, sedangkan dari daun 63 komponen dengan jumlah 78,0% dari minyak atsiri. Rekayasa BiosintesisUntuk rekayasa biosintesis, Elfahmi menggunakan tanaman Eropa yang sudah masyhur untuk obat karena kaya mengandung lignan, yaitu Linum flavum (L. flavum) atau golden flax (Eng)/gele vlas (Bld). Senyawa lignan podofilotoksin dari tanaman Eropa ini sudah lebih dulu dipakai sebagai bahan dasar untuk produksi obat antikanker etoposide, teniposide dan etopophos. Produksi 6-metoksipodofilotoksin (6-MPT) pada kultur suspensi sel dari L. flavum bisa ditingkatkan, sedangkan produksi coniferin berkurang. Pengurangan produksi coniferin berkorelasi dengan berkurangnya aktivitas enzim coniferylalcohol glucosyltransferase (CAGT). Ini menunjukkan bahwa Na2EDTA menghambat CAGT. Mekanisme penghambatan terhadap CAGT masih belum jelas.Selanjutnya untuk memahami fungsi enzim CAGT tersebut, Elfahmi melakukan cloning CAGT dari kultur suspensi sel L. flavum pada E. coli. Hasilnya, tiga glucosyltransferase telah berhasil dikloning dari kultur suspensi sel L. flavum. Dua di antaranya telah memiliki urutan nukleotida lengkap (ORF) yaitu CAGT A dan CAGT B. Sedangkan urutan lengkap dari CAGT C belum berhasil diidentifikasi. Rekayasa ini juga menjelaskan produksi justicidin B, sebuah senyawa sitoksik ariltetralin lignan pada kultur sel dan akar rambut dari L. leoni (satu famili dengan L. flavum, red). Akar rambut yang dimodifikasi secara genetik menghasilkan 5 kali lipat lebih tinggi produksi justicidin B (10 mg g-1 berat kering). Hasil ini menunjukkan bahwa teknik ini dapat digunakan untuk meningkatkan akumulasi justicidin B.Di samping itu, penelitian terhadap efek sitotoksik justicidin B terhadap 2 sel LAMA-84 dan K-562 yang diturunkan dari leukimia kronis dari manusia, menunjukkan respon yang lebih rendah terhadap obat sitotoksik karena ekspresi yang tinggi dari protein BCR-ABL (tirosin kinase non reseptor). IC50 dari justicidin B adalah 1.2, 6.1, dan 1.5 Β΅M untuk sel LAMA-84, K-562 dan leukimia limfoid kronis (SKW), berturut-turut. Ini artinya nilai IC50 sebanding dengan obat antikanker etoposide.Jerih payah Elfahmi ini telah meletakkan pendekatan ilmiah lanjut untuk pengembangan jamu. Terutama hasil rekayasa genetiknya memberikan kontribusi untuk penelitian tanaman obat yang di Indonesia spesiesnya berjumlah ribuan. Pendekatan bioteknologi dapat pula diaplikasikan dalam upaya menggunakan tumbuhan obat sebagai sumber penemuan obat baru.Tesis Elfahmi ini telah dipertahankan pada 26/6/2006 lalu. Dalam acara barbeque perpisahannya di Wilhelmina Park, Rijswijk, Sabtu kemarin, Elfahmi berpesan agar presiden dan seluruh rakyat Indonesia melindungi ekosistem beserta keanekaragaman hayatinya. "Negeri kita menyimpan kekayaan luarbiasa, kedua setelah Amazone. Jangan sampai anugerah ini dihancurkan untuk kepentingan jangka pendek," demikian Elfahmi.
(es/)











































