Marinir Penjaga Perbatasan RI Hidup Bak Dipenjara

Marinir Penjaga Perbatasan RI Hidup Bak Dipenjara

- detikNews
Selasa, 04 Jul 2006 11:27 WIB
Jakarta - Sejumlah masalah menyertai kegiatan penanganan wilayah terluar dan perbatasan di Tanah Air. Kendala yang dijumpai petugas pengamanan adalah soal tempat tinggal dan air.Demikian disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Slamet Soebiyanto di atas kapal Tanjung Dalpele 971 di laut lepas Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (4/7/2006)."Selama ini Marinir tidur di tenda," cetus Slamet kepada wartawan.Karena itu pihak Angkatan Laut akan menyediakan tambahan sarana dan prasarana pendukung untuk para Marinir dalam 3 bulan ke depan. Peralatan itu antara lain tenda dan peralatan pendukung mobilitas. Namun Slamet tidak merinci lebih lanjut peralatan itu.Sementara itu pembangunan rumah bagi para penjaga, menurut Slamet, belum memungkinkan."Kasihan mereka kayak dipenjara, harus hidup di pulau kecil yang lebarnya 20-100 meter persegi," imbuh dia.Jumlah personel pengaman tiap-tiap pulau berbeda, tergantung situasi dan kondisi pulau. "Ada yang satu pleton, ada yang satu regu. Tergantung itu," kata Slamet.Namun demikian, evaluasi kinerja para anggota Marinir rutin dilakukan. Begitu Marinir didatangkan, akan dipantau terus perkembangannya.Timor LesteBagaimana dengan pengamanan daerah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste?"Kita tidak akan menambah pasukan. Tetapi kapal kita ada di sana untuk patroli. Dua atau tiga sudah cukup. Kita hanya berjaga-jaga," tambah Slamet.Mengenai melintasnya kapal selam asing di Selat Sunda pada akhir Juni lalu, Slamet mengatakan masih mempelajari hal itu. Pasalnya hal itu berkaitan dengan masalah layer atau tampilan di radar yang tergantung temperatur."Kesulitan kita itu sebenarnya mencari kapal anti kapal selam. Dengan kapal di permukaan tidak bisa. Kita baru mempunyai 8 kapal seperti itu untuk seluruh perairan Indonesia," tandasnya. (nvt/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads