Pihak Muchdi PR hingga Puan Buka Suara Usai Disenggol Bjorka

ADVERTISEMENT

Pihak Muchdi PR hingga Puan Buka Suara Usai Disenggol Bjorka

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 11 Sep 2022 21:12 WIB
Jakarta -

Hacker Bjorka menjadi perbincangan publik lantaran mengungkap kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir usai ditantang netizen. Selang sehari, Bjorka mengungkapkan identitas siapa dalang pembunuhan Munir.

Awalnya Bjorka mencuit dan mempertanyakan mengapa banyak yang mentah dirinya terkait kasus Munir dan supersemar. Dia mengklaim orang tersebut adalah Muchdi Purwopranjono dan dia kembali melakukan doxing.

"Why so many people tagging me about Munir and supersemar (kenapa banyak orang yang men-tag saya tentang munir dan supersemar-red)," kata Bjorka di akun Twitter miliknya (10/9).

Dalam tulisan tersebut terlihat jelas data pribadi Muchdi Pr, mulai dari nomor telepon, email, NIK, nomor KK, alamat, hingga data vaksin. Tulisan Bjorka ini pun sempat trending di Twitter.


Pihak Muchdi PR Buka Suara

Sekjen Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang pun buka suara terkait hal ini. Berikut penjelasannya.

"Lima tahun lalu jelang Pemilu 2019 isu Munir ini mencuat, waktu itu menyorot kehadiran Pak Muchdi Pr dan Polycarpus di Partai Berkarya. Selaku sekjen saat itu saya membantah dan pasang badan utamanya di media bahwa pengadilan dan secara hukum kedua tokoh tersebut sudah diperiksa dan menjalani proses dan terbukti mereka sudah bebas secara hukum dan tidak terlibat," kata Andi Picunang kepada wartawan, Minggu (11/9/2022).

Untuk diketahui, aktivis HAM Munir meninggal di pesawat Garuda dengan nomor GA-974 ketika sedang menuju Amsterdam untuk melanjutkan kuliah pascasarjana pada 7 September 2004. Institut Forensik Belanda (NFI) menyatakan Munir meninggal akibat racun arsenik dengan jumlah dosis yang fatal. Pembunuhan Munir diduga dilakukan dengan cara meracuni makanannya.

Dalam kasus ini, Pollycarpus Budihari Prijanto divonis 20 tahun penjara atas putusan kasasi Mahkamah Agung tahun 2007. Namun setelah dipenjara 8 tahun, Polly bebas murni 29 Agustus 2018.

Muchdi Pr juga ditetapkan sebagai tersangka selaku Deputi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Namun, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas oleh PN Jakarta Selatan.

Kembali ke penjelasan Picunang. Ia menjelaskan bahwa Muchdi Pr saat ini memiliki hak untuk dipilih dan memilih. Menurutnya, isu soal Muchdi sebagai dalang pembunuhan Munir ini pada akhirnya akan hilang dengan sendirinya.

"Mereka punya hak sebagai WNI untuk dipilih dan memilih, negara mengatur itu. Lama-lama isu itu hilang dengan sendirinya. Saat ini muncul lagi, entah skenario apa lagi. Pak Munir dan Polycarpus sudah wafat, kasusnya muncul lagi dan menyeret nama Ketua Umum kami (Muchdi PR)? Sementara partai kami Partai Berkarya lagi disorot karena tidak lolos pendaftaran di KPU saat ini dan adanya dinamika internal tak kunjung usai," jelasnya.

Dia juga mengungkit soal kondisi kader partai yang sedang galau menanti kepastian terkait kepesertaan dalam Pemilu 2024. Selain itu, Muchdi Pr saat ini sedang berjuang agar Partai Berkarya bisa eksis.

"Kader lagi galau menunggu kepastian dan Ketum kami lagi berjuang bagaimana partai ini bisa eksis di Pemilu 2024, minimal jadi pengusung capres dari PT 25% jalur suara nasional hasil Pemilu 2019 jika tak ada peluang ikut pileg 2024," ungkapnya.

Dia juga mengatakan bahwa kasus ini pembunuhan Munir ini baiknya diserahkan ke negara. Sebab, Muchdi Pr dan mereka yang terkait sudah menjalani proses hukum.

"Kembali ke kasus Munir, kita serahkan ke negara saja. Kan sudah lama kasusnya dan yang terkait sudah menjalani proses hukum. Untuk Pak Muchdi Pr kan sudah terbukti tidak terlibat oleh pengadilan dan sudah dibebaskan," ungkapnya.

Ia menduga ada sesuatu di balik aksi hacker Bjorka. Namun, baginya isu ini akan hilang dengan sendirinya.

"Adanya hacker Bjorka membuka ke publik lagi pasti ada niat di balik itu. Entah mau menutupi isu terupdate sekarang atau sekedar isu jelang pemilu lima tahunan. Wallahu alam. Lama-lama juga akan hilang dengan sendirinya," ujarnya.

Dia mengingatkan bahwa kasus ini perlu dilihat dengan pikiran positif. Selain itu, dia menegaskan bahwa Muchdi Pr tidak pernah membawa isu ini ke dalam Partai Berkarya.

"Tinggal kita sebagai WNI yang baik memandang positif atau negatif isu ini, dan baiknya kita positif thinking saja meluruskan sejarah bangsa ini. Dan kami ingatkan bahwa isu ini tidak ada hubungannya dengan Partai Berkarya, dan Ketum Muchdi PR juga tidak pernah membawa isu ini ke partai karena kasus ini sudah lama dan selesai sebelum Partai Betkarya lahir di tahun 2016," tegasnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT