Pindah ke Tempat Tak Layak Huni

Nasib Pengungsi Tenda Korban Tsunami (2)

Pindah ke Tempat Tak Layak Huni

- detikNews
Senin, 03 Jul 2006 08:16 WIB
NAD - Sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) pengungsi korban tsunami di kompleks TVRI Banda Aceh dipindahkan, Jumat (30/06/2006). Seratusan KK lainnya masih mendiami tenda-tenda di lokasi tersebut. Ada yang tidak mau pindah, ada yang memang belum ditempatkan. Lokasi hunian sementara yang menjadi tempat baru bagi mereka tak layak huni.M Sofyan (38) berusaha menenangkan dirinya. Lelaki yang sehari-hari membawa becak bermotor ini tak diizinkan bicara dengan Gubernur NAD, Mustafa Abubakar, ketika sang gubernur meninjau para pengungsi di kompleks TVRI Desa Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Jumat (30/06/2006).Ketika rombongan gubernur melintasi dirinya, bapak dua anak ini dihalang-halangi untuk bicara."Jangan memalukan bupati di depan gubernur," kata Pj Bupati Aceh Besar, A Madjid AR pada Sofyan sembari menepuk pundaknya. Beberapa anggota polisi dan tentara juga berusaha menyabarkan M Sofyan. Sembari melintas, Mustafa Abubakar juga meminta agar Sofyan bersabar."Saya ini kan korban tsunami juga. Tapi kenapa saya tidak mendapat rumah bantuan. Orang-orang yang tidak korban langsung dapat bantuan. Kenapa bantuannya tidak adil seperti ini," ucapnya emosi pada wartawan.Diungkapkan Sofyan, dirinya resah karena anaknya, Asrul (9) terus merengek minta ikut pindah ke barak di Lhoong Raya yang dibangun oleh Australian Red Cross. "Teman-teman mainnya sudah pindah semua. Kami belum juga dipindahkan. Lihatlah tenda kami ini sudah tidak layak huni lagi. Kalau hujan masuk air. Saya sebenarnya ada tanah di bekas rumah saya yang lama di kawasan Lambaro Skep, tapi sudah capek ke sana ke mari tak juga dapat bantuan rumah," katanya.Sebenarnya menurut Pj Bupati Aceh Besar A Madjid AR pada wartawan di sela-sela acara, sekitar 227 KK yang mengungsi di kompleks TVRI Banda Aceh ini akan dipindahkan semuanya. Namun dikatakannya, banyak dari mereka tidak mau dipindahkan."Semua ada tempat, rencana hari ini semua dipindahkan. Tapi mereka memilih-milih. Bagaimana itu. Di situkan (barak Lhoong Raya) tidak cukup, jadi kita harapkan sebagian pindah ke rumah kuning. Tapi mereka tidak mau," ujarnya berkelit.Diakuinya, fasilitas rumah kuning memang ada yang kurang. Seperti air dan juga kondisi rumah. "Tapi kan namanya sementara, kurang-kurang sedikit wajarlah. Tapi layak huni, semua ada tempat. Ini mereka milih-milih, kan susah. Kalau nanti ada rumah ya mereka bisa pindah lagi," tambahnya sembari mengatakan kepindahan para pengungsi ke rumah permanen tergantung bantuan dari para NGO.Rumah Kuning Tak Layak HuniYang disebut sebagai rumah kuning, adalah rumah bantuan dari Pemprov Sulawesi Selatan dan Pemkot Makassar. Rumah yang keseluruhan materialnya dari triplek ini berada di kawasan Desa Cot Gue, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.Dari jauh rumah yang memiliki satu kamar tidur, satu kamar tamu dan satu dapur serta satu kamar mandi ini terlihat seperti rumah-rumahan. Selain warnanya yang keseluruhan kuning cerah, tingginya tak lebih dari dua meter.Selain itu, sambungan antara satu triplek dengan triplek lainnya hanya direkatkan dengan lakban warna kuning. Atapnya juga terbuat dari triplek."Saya sudah dua bulan tinggal di sini. Dulunya di kompleks TVRI. Kalau hujan ya banjir juga, soalnya lantainya lebih rendah dari jalan. Karena kalau hujan bocor, kami dikasih plastik 10 meter untuk atap, tiap-tiap rumah," aku Eka Yusnidar (33) pada wartawan yang mengunjungi komplek rumah bantuan itu.Sebenarnya Eka yang tinggal bersama suami dan 3 anaknya yang masih kecil ini tak betah tinggal di rumah bantuan yang terbilang unik itu. "Tapi lumayanlah, tidak panas dan tidak begitu sesak dibanding di tenda seperti dulu. Tapi ya sulitnya kita nggak ada air di sini. Harus minta sama penduduk di depan sana," ujarnya.Jika dilihat secara kasat mata, banyaknya rumah kuning ini ada sekitar seratusan. Sebenarnya, pemandangan lokasi rumah bantuan ini amatlah indah, berada di bawah kaki bukit perbukitan Bukit Barisan. Selain udara yang sejuk, pandangan mata juga terasa enak."Wah, waktu dulu pertama kemari kondisinya kotor sekali. Hampir di semua rumah ada kotoran lembu. Listrik ada, tapi kabel dan lampu tidak ada. Semua kita beli sendiri. Dari sejak kami pindah dibilang akan dibuat sumur, tapi sudah 2 bulan di sini, tak ada juga sumur," tukas M Amin salah satu penghuni rumah kuning.Dulunya, rumah kuning ini diperuntukkan untuk kalangan Pemda NAD yang kehilangan rumah. Tapi karena kondisinya yang tak layak huni, para pegawai Pemda NAD ogah tinggal di kawasan ini."Tapi mau bagaimana lagi. Meski tak layak, kami bersyukur. Tapi mohonlah dibuatkan sumur biar ada air untuk pengungsi di sini," harap Eka.Para pengungsi yang dipindahkan kemari ibarat keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Mereka memang harus dipindahkan dari tenda-tenda pengungsian secepatnya.Tapi agaknya tak hanya persoalan memindahkan mereka. Kelayakan tempat tingal baru bagi mereka juga perlu diperhatikan. (fjr/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads