Nasib Pengungsi Tenda Korban Tsunami (1)
'Semoga Dapat yang Lebih Baik'
Senin, 03 Jul 2006 06:03 WIB
NAD - Sekitar 80 kepala keluarga (KK) pengungsi korban tsunami di kompleks TVRI Banda Aceh dipindahkan ke barak di Lhong Raya, Jumat (30/06/2006). Seratusan KK lainnya masih mendiami tenda-tenda di lokasi tersebut. Ada yang tidak mau pindah, ada yang memang belum ditempatkan. Janji gubernur untuk meniadakan pengungsi tenda korban tsunami pada akhir Juni sepertinya tak terpenuhi.Beberapa keluarga terlihat sibuk mengemasi barang-barang mereka. Ada juga yang masih membongkar tenda-tenda yang hampir satu tahun setengah melindungi mereka dari hujan dan panas. Ada juga puluhan keluarga lainnya yang sepertinya tidak perduli bahwa para tetanga mereka akan pindah. Mereka sibuk dengan aktivitas sehari-hari, seperti mencuci pakaian, memasak atau sekadar duduk-duduk di depan tenda mereka."Yang pindah hari ini memang untuk orang-orang yang dulunya penyewa. Jadi, kami yang tidak punya tanah," jelas Annida (40) pada detikcom ketika menunggu keluarganya mengemasi barang-barang di Kompleks TVRI Banda Aceh, Desa Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.Meski Annida mengakui barak yang nanti dihuninya bersama 3 anak laki-lakinya hanya sebuah kamar kecil berukuran 3x4 meter, dirinya sangat bersyukur. "Semoga di sana tempatnya dapat yang lebih baik dari di sini. Kalau di sini kan panas sekali. Kalau hujan kita kebanjiran. Mudah-mudahan tidak lama di sana, ada yang kasih bantuan rumah. Kalau untuk menyewa sekarang ini tidak mampu lagi," ungkapnya.Pasalnya, wanita yang sebelum tsunami menjual rempah-rempah di Pasar Keudah, Banda Aceh ini kini tak bisa berdagang lagi, demikian juga suaminya yang berprofesi sama. "Kami tak ada modal. Padahal, Rp 1 juta saja sudah cukup modal. Tapi karena tidak ada yang memberi ya tidak bisa jualan lagi. Suami sekarang ikut-ikut tukang bangunan," katanya."Tapi itu juga susah. Karena waktu tsunami mobil yang saya tumpangi terbalik, saya dibawa air, kaki saya patah. Sekarang kaki kanan ini tidak lurus lagi," timpal suaminya, Usman (54) pada detikcom di tempat yang sama.Selama hampir satu tahun setengah, mereka hanya dibantu beras 10 Kg perjiwa, minyak, ikan kaleng dan obat penjernih air. Bantuan ini rutin didapatkan per satu bulan. "Tapi sejak dua bulan ini ikan kaleng tidak ada lagi. Minyak juga seskali tidak ada. Tapi ya syukur juga bisa bantu-bantu menutupi kebutuhan," aku Usman yang jika mendapat pekerjaan menjadi tukang bangunan bergaji Rp 35 ribu perhari."Sebenarnya kalau duit gaji itu tak dipakai makan dan ongkos bisa dikumpul-kumpul untuk modal.Tapi ini saja ongkos ke kota pulang pergi bisa Rp 10 ribu. Belum lagi makan, rokok dan beli kebutuhan lainnya. Mudah-mudahan kalau di barak nanti ada yang kasih modal jadi bisa dagang lagi mana tahu bisa sewa rumah lagi kalau nggak dapat rumah bantuan," ujarnya.Atim (75) adalah pengungsi lainnya yang ikut pindah ke shelter yang dibangun oleh Australian Red Cross pada hari ini. "Tapi kok belum berangkat juga ya. Jadi pindah tidak ini," kata nenek berusia 75 tahun ini pada detikcom, Jumat (26/06/2006).Perempuan asal Wajak, Malang, Jawa Timur ini baru satu setangah bulan menempati tenda lembaga pengungsian PBB (UNHCR) di lokasi tersebut. "Tenda ini saya beli Rp 300 ribu dari orang-orang yang di sini. Tapi mau saya jual lagi nggak ada yang mau beli. Ya ada yang mau tukar dengan tempa masak nasi itu syukur kali," ujarnya sembari menunjukkan sebuah rice cooker kecil yang ditumpuk bersama barang lainnya.Sebelumnya, dirinya sempat menumpang di tempat majikannya yang lama. Tapi karena sang majikan pindah ke Jawa, dia memilih tetap tinggal di Aceh meski harus tinggal di tenda.Dituturkannya, dulunya dia adalah transmigran yang ditempatkan di Simpang Empat, Meulaboh. Tapi karena konflik, rumahnya dibakar GAM, satu anak lelakinya diculik GAM, mereka kemudian hijrah ke Banda Aceh. "Kami menyewa di Lampoh Dayah. Eh baru beberapa tahun sudah kena tsunami," katanya.Dia dan 3 anak lelakinya sangat bersyukur bisa dipindahkan meski dipindahkan ke barak. "Daripada di sini. Di sanakan katanya kalau hujan nggak banjir dan nggak jorok kayak di sini, saya nurut saja jadinya," imbuhnya.Annida dan Atim adalah dua sosok pengungsi yang mewakili suara pengungsi lainnya. Mereka menggantungkan harapan yang tidak muluk-muluk pada pemerintah untuk tetap dapat bertahan mengarungi kehidupan. Tempat tinggal yang lebih layak dan bantuan modal untuk usaha.Begitu juga harapan para pengungsi yang masih mendiami lokasi itu, yang entah sampai kapan berlindung di bawah tenda yang semakin lapuk dimakan usia. Sedikitnya, masih ada 5 ribu pengungsi korban tsunami yang sampai saat ini masih mendiami tenda-tenda pengungsian.
(fjr/)











































