KKP Bahas Agenda Ekonomi Biru Indonesia di Sidang COFI FAO Ke-35

ADVERTISEMENT

KKP Bahas Agenda Ekonomi Biru Indonesia di Sidang COFI FAO Ke-35

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Senin, 05 Sep 2022 17:30 WIB
KKP
Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan pidato di Sidang Committee on Fisheries (COFI) ke-35 di Roma/Foto: Dok. KKP
Jakarta -

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menghadiri sidang The Committee on Fisheries (COFI) ke-35 di Roma, Italia, Senin (5/9). Dalam sidang ini, Trenggono menyampaikan komitmen Pemerintah Indonesia dalam mengelola kelautan dan perikanan secara berkelanjutan sesuai prinsip Ekonomi Biru.

Trenggono mengatakan implementasi program-program Ekonomi Biru pada sektor kelautan dan perikanan Indonesia dapat berkontribusi pada pemenuhan pangan global. Dalam hal ini, Badan Pangan Dunia (FAO) memprediksi kebutuhan protein global akan meningkat hingga 70% pada tahun 2050.

"Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut yang berlimpah meyakini dapat memberikan sumbangsih yang cukup besar untuk memenuhi protein dunia. Indonesia terus bekerja untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil dapat menyeimbangkan keperluan dan kesejahteraan masyarakat sembari mampu menyediakan lingkungan laut yang sehat," ujar Trenggono dalam keterangan tertulis, Senin (5/9/2022).

Lebih lanjut, Trenggono menjelaskan Pemerintah Indonesia melalui KKP telah menetapkan lima strategi Ekonomi Biru untuk memaksimalkan potensi sumber daya laut. Pertama, program perluasan kawasan konservasi terbatas dengan target 30% dari seluruh perairan untuk menjaga serapan karbon dan memproduksi oksigen, serta sebagai zona spawning dan nursery ground.


Kedua, pemerintah telah membuat kebijakan penangkapan ikan terukur berbasis kuota untuk menjaga populasi perikanan dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Ketiga, program pengembangan budidaya perikanan untuk mendorong nelayan-nelayan di zona penangkapan terukur agar dapat beralih pada kegiatan budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Keempat, program yang menjamin wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terjaga dengan baik sehingga tidak terjadi kerusakan akibat aktivitas ekonomi. Dan terakhir, program ekonomi sampah yang melibatkan nelayan lokal dan industri dengan cara tidak mengambil ikan tetapi mengambil sampah di laut dalam kurun waktu tertentu.

KKPMenteri KP Sakti Wahyu Trenggono berdiskusi dengan Peter Thomson, Diplomat Fiji and the United Nations Secretary-General's Special Envoy for the Ocean Foto: Dok. KKP

"Kita tidak bisa hanya mendorong dan memanfaatkan potensi ekonomi laut kita. Kita harus bertindak secara bertanggung jawab. Karena nasib generasi masa depan kita ditentukan oleh komitmen kita untuk melindungi dan mempertahankan laut kita," paparnya.

Sementara itu, Asisten Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Doni Ismanto menambahkan selain menyampaikan General Statement di Sidang Committee on Fisheries ke-35, Trenggono juga akan berpidato di High Level Special Event of The International Year of Artisanal Fisheries and Aquaculture (IYAFA).


"Pak Menteri juga akan ada bilateral meeting dengan Direktur Jenderal FAO dan The Committee on Fisheries (COFI)," katanya.

Dijelaskannya, saat membuka sidang, Dirjen FAO Qu Dongyu pun sempat membahas kondisi sektor perikanan Indonesia yang menunjukkan kemajuan.

"Perhatian yang tinggi dari FAO menjadikan agenda Menteri Trenggono di Roma sangat strategis bagi perkembangan sektor kelautan dan perikanan Indonesia, karena di kesempatan itu delegasi Indonesia memperkenalkan langkah-langkah terobosan KKP dalam pelaksanaan program pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. Sidang COFI ke-35 akan dijadikan kesempatan sinergi dukungan FAO dalam program ekonomi biru KKP," pungkasnya.

Sebagai informasi, COFI atau Komite Perikanan didirikan Konferensi FAO pada 1965. Komite ini merupakan satu-satunya forum antar-pemerintah global, yakni Anggota FAO bertemu untuk meninjau dan mempertimbangkan masalah dan tantangan terkait dengan perikanan dan akuakultur.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT