ADVERTISEMENT

Kolom Hikmah

Jujur

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 02 Sep 2022 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Seorang sahabat pernah bertanya pada Rasulullah Saw. "Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?" Rasulullah Saw. menjawab: "Mungkin saja." Sahabat bertanya lagi: Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?" Dijawab: " Mungkin saja." Sahabat bertanya lagi, Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?" Rasulullah menjawab: Tidak" (HR Imam Malik).

Hadis di atas menegaskan, bahwa seorang mukmin tidak mungkin melakukan kebohongan. Kejujuran adalah pangkal semua perbuatan baik manusia. Tidak ada perbuatan dan ucapan baik kecuali kejujuran yang melandasi. Oleh sebab itu, Allah Swt. menyuruh orang-orang mukmin agar selalu berkata benar dan jujur. Dalam firman-Nya surah al-Ahzab ayat 70, " Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang jujur/benar."

Seorang pendidik Prof. Komarudin Hidayat berpendapat, " Orang Denmark percaya bahwa semua kebaikan yang ada di negaranya berawal dari kejujuran, pada saat seorang jujur maka semua fasilitas umum untuk rakyat akan terbangun dengan baik oleh pemerintah, sebagaimana mestinya sesuai standar mutu yang telah ditetapkan di segala bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan lain-lain."

Itulah kejujuran yang melandasi sikap warga negara, sehingga dapat menciptakan keadaan aman dan nyaman sebagai tempat tinggal. Yang menjadi pertanyaan, " Kenapa kondisi aman dan nyaman belum terjadi di negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim? Sikap jujur adalah perintah-Nya dan utusan-Nya ( Muhammad Saw. ) telah memberikan contoh dalam kehidupan. Ketika miskin kejujuran maka seseorang akan banyak mengalami masalah, apakah akan berurusan dengan berwajib atau menjadi orang yang selalu menutup kebohongan dengan dusta lain.

Mari kita simak yang dituturkan oleh Imam besar Syech Abdul Qadir al-Jailani : " Aku membangun hidupku di atas kejujuran." Ceritanya, ketika aku hendak pergi menuju Baghdad untuk menuntut ilmu, Ibuku memberiku empat puluh dinar. Ia memintaku berjanji untuk selalu jujur.

Dalam perjalanan, ketika kami tiba di kota Hamdan, sekawanan perampok mencegat kami dan berkata, " Apa yang kau miliki?"
" Empat puluh dinar." Jawabku.


Dia mengira aku memperoloknya, kemudian meninggalkanku. Lalu seorang perampok lain mendekatiku dan berkata, " Apa yang kau miliki?"
Akupun mengatakan hal yang sama, lalu aku dibawa kepemimpinannya. Dia juga bertanya yang sama dan aku mengatakan hal yang sama. Ia berkata, " Apa yang membuatmu jujur?" Jawabku, " Ibuku memintaku berjanji untuk selalu jujur, maka aku takut untuk mengkhianati janjiku pada Ibuku."

Tiba-tiba sang pemimpin rampok itu menjerit dan menangis. " Kamu takut berkhianat pada janjimu kepada ibumu, sementara aku tidak takut berkhianat pada janjiku kepada Allah!?" Setelah itu dikeluarkan perintah untuk mengembalikan seluruh harta dari kafilah kami. Dan ia pun berkata, " Berkat dirimu, aku bertobat kepada Allah." Seluruh anak buahnya mengikutinya bertobat tak lain berkat dan karena kejujuran.

Kisah tersebut memberikan pelajaran pada kita bahwa, kejujuran adalah bekal sikap utama dalam menjalani kehidupan. Namun pada zaman saat ini, menjumpai dan menemukan pribadi-pribadi yang jujur sangat sulit. Bertambahnya para " pejabat " yang menjadi pasien penegak hukum masih terus berjalan dan Ini menjadikan bukti pada kita bahwa, terjadi pengikisan sikap jujur di negeri ini. Sikap kejujuran menjadi sangat mahal dan tidak mudah menemukannya. Bagi umat yang beriman, kejujuran itu landasan bagi kehidupannya karena dia menyadari hal itu merupakan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya.

Ingatlah wasiat Syekh Abdul Qadir al-Jailani di madrasahnya pada hari jum'at pagi, " Hai anak muda! Bersedekahlah kepadaku dengan sebiji kejujuran, niscaya kalian akan terlepas dari harta benda dan semua yang ada di rumah kalian. Aku tidak menginginkan dari kalian selain kejujuran dan keikhlasan. Manfaat darinya pun untuk kalian. Aku menginginkan kalian untuk kalian, bukan untukku. Ikutlah ucapan lidah lahir dan batinmu karena kalian diawasi oleh para malaikat, yang mengawasi urusan lahiriah kalian dan oleh Allah yang mengawasi urusan batiniah kalian."

Semoga Allah Swt. selalu menjaga, membimbing dan melindungi kita agar tetap teguh dalam bersikap jujur. Kita sadari bahwa tanpa bimbingan-Nya, akan menjadikan kita lemah dan bersikap khianat.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT