Koesmayadi, Brigjen dengan 3 Rumah
Jumat, 30 Jun 2006 11:51 WIB
Jakarta - Ketika Koesmayadi meninggal dunia pada Minggu 25 Juni 2006, tidak banyak yang terlalu menggagas jenderal bintang satu ini. Tapi ketika KSAD Jenderal Djoko Santoso mendadak menggelar jumpa pers pada 29 Juni malam, masyarakat pun sontak bertanya-tanya, siapa Koesmayadi?Saat menghadap Illahi, Koesmayadi masih menduduki jabatan Wakil Asisten Kepala Staf TNI Angkatan Darat Bidang Logistik (Waaslog KSAD) berusia 53 tahun.Koesmayadi adalah teman satu angkatan KSAD, sama-sama lulusan Akabri tahun 1975. Karier kemiliteran yang pernah dijalaninya adalah sebagai Kepala Staf Korem 172 Trikora, Wakil Komandan Pusat Latihan Tempur Resimen Infanteri Kodam Jayapura, Komandan Kompi Senapan Batalyon Infanteri 744 Timtim dan Komandan Peleton Batalyon Infanteri 744 Timtim.Koesmayadi meninggal dunia akibat serangan jantung di rumahnya di Kompleks Rafflesia, Cibubur, Jakarta Timur. Rafflesia dikenal sebagai kawasan elit dengan harga rumah ratusan juta hingga miliaran rupiah.Sehari setelah meninggal, kesatuan Koesmayadi mendata barang-barang inventarisir dinas. Selain memiliki aset di Rafflesia, ternyata Koesmayadi juga memiliki rumah di komplek elit di Puri Marina, Ancol, Jakarta Utara. Di rumah mewah inilah kesatuan almarhum menemukan temuan mengejutkan: 145 senjata (SS1, M16, MP5 dan AK); 9 granat; 28.985 amunisi dan 28 teropong. Kepemilikan ini menurut KSAD, sungguh di luar kelaziman.Bicara soal rumah, masih ada rumah Koesmayadi lainnya yang terdata. Rumah itu terletak di kawasan Jalan Gatot Soebroto, Kuningan, Jakarta Selatan. Tapi ini merupakan rumah dinas perwira tinggi TNI AD. Dari tiga rumah Koesmayadi ini, yang paling menarik atensi jelas rumah tempat ditemukannya senjata api dan asesorisnya, yaitu di Puri Marina. Selain bangunan megah, rumah itu dihiasi mobil dinas bernopol militer dan mobil berpelat hitam.Dua mobil berpelat hitam yang terpakir adalah Honda Odessey B 509 DK warna hitam dan Honda CRV nopol B 8391 AO. Tentara yang berjaga di sekitar rumah almarhum menyebut kendaraan itu adalah kendaraan pribadi sang brigjen.
(nrl/)











































