Kalla Diminta Hati-hati Bicara
Kamis, 29 Jun 2006 17:03 WIB
Jakarta - Wapres Jusuf Kalla jadi sasaran tembak gara-gara royal berkomentar soal Ujian Nasional (UN). Kalla diimbau berhati-hati bicara dan bijaksana menyikapi isu itu."Pak Wapres harus lebih berhati-hati karena masalah ini cukup mendapatkan respons publik," kata Wakil Ketua Komisi X DPR Masduki Baidlawi kepada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (29/6/2006).Pagi tadi, Kalla juga kembali berkomentar soal penolakan menggelar UN ulangan. "Kita tidak butuh populis sekarang ini. Kita butuh hasilnya pada masa mendatang. Kalau lulus dengan demo, sudahlah, habislah. Jadi saya bilang, silakan demo dan silakan ujian tahun depan," kata Kalla."Kalau tidak lulus didemo, lama-lama sarjana atau insinyur didemo juga, mau jadi apa bangsa ini. Pendidikan tidak ada demokrasinya. Apabila orang lulus atau tidak lulus tidak ada demokrasinya. Pokoknya kalau passing grade lulus, ya lulus. Pokoknya tidak ada voting-nya karena akan menciptakan bangsa yang lembek sekali," tandas Kalla.Menurut Masduki, pernyataan Kalla itu tidak bijak. "Kalau Wapres menyatakan itu, itu namanya memaksakan kehendak. Dia tidak punya wisdom terhadap rakyat kecil," katanya.Menurut politisi PKB ini, persoalan UN ulangan tidak dikarenakan demo atau tidak ada demo, tapi argumentasi pemerintah untuk tidak melaksanakan ujian ulang tidak memiliki dasar apa pun. Karenanya, ujian ulang harus tetap diadakan."Argumentasi pemerintah dari segi mana pun untuk tidak mengadakan ujian ulang itu terpatahkan. Di peraturan pemerintah, ujian ulang itu adalah hak dari siswa. Di UU Sisdiknas juga diatur dengan jelas," tambah Masduki.Masduki menegaskan, DPR bersama Mendiknas dalam anggaran 2006 telah menyetujui anggaran Rp 25 miliar untuk menggelar ujian ulang untuk siswa yan tidak lulus. "Sebelum diintervensi oleh Wapres, DPR sudah sepakat dengan Diknas. Dana itu harus direalisasikan," tandasnya.
(nrl/)











































