Depdiknas Minta Jangan Terlalu Ekstrem Anti UN
Kamis, 29 Jun 2006 09:05 WIB
Jakarta - Sebagian siswa SMP dan SMU merasa dirugikan dengan Ujian Nasional (UN) 2006. Alasannya, walaupun memiliki prestasi yang baik di sekolah, namun ternyata mereka gagal dalam UN.Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lantas menilai UN sebagai pembodohan yang sistematis terhadap rakyat. Pernyataan ini antara lain disampaikan Federasi Guru Independen dan Perkumpulan Peduli Pendidikan.Menanggapi hal itu Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto lantas meminta semua pihak agar tidak terlalu ekstrem menentang UN."Tidak mungkinlah dites sebagai upaya pembodohan, coba lihat nilai rata-ratanya saja semakin naik," cetus Suyanto dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (29/6/2006).Ditambahkan dia, persoalan UN tidak boleh dilihat secara parsial semata. Karena angka kelulusan siswa mencapai 92%, Suyanto pun bertanya-tanya mengapa yang gagal selalu dipertanyakan."Kenapa yang 8% terus yang ditanya. Lalu yang good news itu bagaimana?" ujar dia.Meski demikian, dia setuju untuk membantu siswa berprestasi yang gagal UN. "Penyetaraan sudah pasti. Prinsip pedagogisnya kan supaya mereka bisa lulus," imbuh Suyanto.Apalagi, menurutnya, soal-soal UN sudah diujicobakan terlebih dahulu pada daerah-daerah yang pada tahun lalu angka kelulusannya sangat rendah.Bagaimana dengan usulan agar UN dilakukan beberapa kali agar validitasnya teruji? "Validitasnya itu dengan uji coba soal UN. Kalau dilakukan berkali-kali ya tidak ada bedanya dengan ulangan harian," tandas Suyatno.
(nvt/)











































