Pengungsi Merapi Pulang

Pengungsi Merapi Pulang

- detikNews
Rabu, 28 Jun 2006 17:01 WIB
Yogyakarta - Meski Pemerintah Kabupaten Sleman belum memperbolehkan para pengungsi Merapi pulang kembali ke rumah masing-masing, tapi tampaknya mereka sudah tidak betah di kamp pengungsian. Banyak warga yang nekat pulang ke rumah. Mereka pulang dengan berbagai alasan. Ada yang pulang untuk menengok rumah yang sudah dua minggu ditinggalkan. Ada pula yang pamit hendak pergi menghadiri hajatan salah satu keluarganya di wilayah lain. Bahkan ada pula yang mengaku tidak kerasan karena buruknya sanitasi MCK (mandi cuci kakus) di barak. Namun sebagian besar beralasan takut ternak sapi perahnya tidak terurus dan sakit. Karena itu, mereka harus mencari rumput jauh dari tempat tinggal hingga wilayah Ngemplak dan Kalasan. Sebab kawasan hutan di sekitar hutan lindung Kaliadem sudah dijadikan kawasan tertutup karena tertutup material Merapi."Di samping kangen rumah, kalau kamar mandi darurat agak kotor terus terang tidak bisa buang air besar. Lebih baik pulang ke rumah saja dulu," kata Sudarmo(60) warga Desa Glagaharjo Cangkringan kepada detikcom, Rabu (28/6/2006).Meski di barak pengungsian tersedia lebih kurang 15 bilik MCK, namun setiap pagi dirinya harus antre untuk buang hajat secara bergantian dengan warga lainnya. Namun dirinya kurang sreg sehingga memilih buang air besar di kamar mandi di rumahnya yang berjarak 500 meter dari kawasan Kaliadem. "Kalau kebersihan dan bau tidak sedap tidak terlalu masalah. Kalau harus antre itu yang agak repot," katanya.Dia mengatakan keluarganya sudah kembali ke rumah sejak 4 hari lalu bersama warga lainnya. Alasannya untuk mengurus hewan ternak sapi dan Merapi sudah aman, tidak terjadi hujan abu yang banyak lagi. Saat ini jumlah pengungsi di barak Desa Glagaharjo sudah berkurang dibandingkan seminggu yang lalu. Pada hari pertama hingga hari kelima setelah awan panas turun hingga Kaliadem tanggal 14 Juni lalu, barak Glagaharjo ditempati lebih kurang 1.000 orang.Diperkirakan saat ini tinggal 300-an orang yang berasal dari Dusun Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul. Sebagian lagi, terutama dari dusun Singlar, Srunen dan Glagahmalang juga kembali ke rumah masing-masing. Yang masih tinggal di barak hanya warga lansia, anak-anak dan ibu hamil/menyusui.Dia mengatakan saat ini air dari Umbul Bebeng belum mengalir karena pipa rusak. Untuk kebutuhan makan dan minum, warga terpaksa harus mengambil dari bak-bak air yang dipasang di pinggir dusun. Namun air yang didrop menggunakan mobil tangki itu masih terbatas sehari sekali untuk kapasitas 1.500 liter."Harus antre dengan warga lainnya. Paling banter hanya dapat 100-an liter dan kalau terlambat sudah tak kebagian. Itu pun hanya cukup untuk masak air saja," katanya.Untuk mencuci pakaian, dia meminta istrinya untuk mencuci pakaian di barak karena air yang tersedia cukup banyak. Bila sudah selesai, pakaian tinggal dibawa ke atas lagi untuk dijemur di rumah.Sedang untuk memberi minum hewan ternaknya, dirinya terpaksa mengambil air dari sumber mata air di Desa Argomulyo yang berjarak 5 kilometer dari rumah. Sedang untuk mencari rumput, dia bersama anaknya harus mencari rumput hingga wilayah Ngemplak dan Kalasan yang berjarak 15 kilometer. "Lumayan jauh dan harus setiap hari cari rumput daripada harus beli jerami sangat mahal sekali saat ini," katanya.Dia hanya mengeluh selama tinggal di barak sudah dua kali terkena radang tenggorokan dan pilek. Oleh petugas kesehatan di posko Glagaharjo sudah diberikan obat batuk dan flu. Hal ini disebabkan banyak warga yang sakit setelah beberapa hari wilayah Cangkringan terkena abu Merapi. Hingga saat ini, hanya istrinya saja yang tinggal dib arak bersama menantu dan cucunya. Sedang dirinya bersama anaknya memilih tinggal di rumah sambil berjaga. Selama satu minggu hingga tanggal 22 Juni lalu, dirinya harus bolak-balik menjemput istri maupun menantu dan cucu di barak untuk pulang ke rumah. "Dulu pagi di rumah, malam di barak. Sekarang sudah aman ya balik dulu. Kalau diminta mengungsi lagi, nanti turun lagi. Kalau terlalu lama tinggal di barak, siapa yang kasih makan dan memerah sapi. Lagipula tinggal di barak juga boros biaya karena harus bolak pakai motor dan beri uang jajan cucu," kata dia. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads