Ditawari Jadi Sekjen PBB, Anwar Ibrahim Pikir-pikir
Rabu, 28 Jun 2006 15:30 WIB
Jakarta - Lama dipenjarakan dan lama tidak memiliki jabatan top, bukan berarti Anwar Ibrahim sudah tidak laku lagi. Bahkan, saat ini mantan Deputi Perdana Menteri (PM) Malaysia ini ditawari untuk menjadi kandidat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Maukah Anwar dicalonkan menjadi orang nomor satu di PBB? Anwar Ibrahim mengaku dirinya memang ditawari untuk menjadi Sekjen PBB. Namun, dia belum memutuskan akan menerima tawaran itu atau tidak. Anwar menyatakan selama 3 bulan terakhir, menteri-menteri dan pemimpin-pemimpin dari berbagai negara terus menanyakan apakah dirinya akan mencoba berkompetisi untuk menempati kursi panas tersebut, yang kabarnya akan diserahkan kepada diplomat Asia. "Ya, memang ada beberapa tawaran dan rundingan dari berbagai pihak, tetapi saya belum membuat keputusan jelas," tegas Anwar kepada AFP, Rabu (28/6/2006). Menurut Anwar, semua obrolannya dengan pihak-pihak luar negeri sangatlah pribadi dan terkesan informal. Inti dari pembicaraan itu hampir sama, mengenai kemungkinan dirinya menjadi Sekjen PBB. Sekjen PBB Kofi Annan akan turun dari jabatannya akhir tahun ini saat masa jabatan 5 tahunnya yang kedua berakhir. Banyak pihak yang berketetapan bahwa pengganti Kofi Annan harus dari Asia. Negara-negara Asia sudah berlomba untuk mencalonkan kandidatnya akhir-akhir ini. Beberapa kandidat kuat, antara lain Deputi Perdana Menteri Thailand Surakiart Sathirathai, Penasihat Presiden Sri Lanka Jayantha Dhanapala, dan Menlu Korea Selatan Ban Ki-Moon. Selain itu, India juga menjagokan Shashi Tharoor. Kandidat lainnya yang muncul adalah mantan Menlu Timor-Leste sekaligus pemenang Nobel perdamaian Jose Ramos-Horta dan Presiden Latvia Vike Frieberga. Tidak mau ketinggalan, mantan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi juga mencalonkan diri. Anwar Ibrahim (58) dipecat dari jabatan Deputi PM Malayasia pada tahun 1998 dan dipenjara karena tuduhan sodomi dan korupsi. Banyak pihak yang tidak percaya terhadap tuduhan ini. Sebaliknya, banyak pihak menilai Anwar dipenjarakan karena buntut perseteruannya dengan Mahathir Mohammad yang saat itu menjadi PM Malaysia. Anwar bebas pada tahun 2004 dan kembali ke dunia politik Malaysia, mendirikan Partai Keadilan sambil mempertahankan pekerjaannya sebagai profesor di Universitas Georgetown, di Amerika Serikat. "Sekarang saya masih sibuk akan pekerjaan saya di Universitas Georgetown dan bertemu kawan-kawan saya di Malaysia," ungkap dia.
(asy/)











































