Sultan: Tanggap Darurat Gempa Molor
Selasa, 27 Jun 2006 21:41 WIB
Yogyakarta - Tepat satu bulan peristiwa gempa bumi menimpa warga Yogyakarta dan sekitarnya. Namun masih banyak warga di Yogyakarta yang belum menerima bantuan living cost seperti yang dijanjikan pemerintah pusat. Hampir dipastikan proses tanggap darurat yang dijadwalkan selesai bulan ini molor.Masih banyak warga di berbagai kecamatan yang belum menerima bantuan tersebut. Selain itu, masih banyak warga yang tinggal di tenda-tenda dan belum berani tinggal di rumah karena gempa susulan masih sering terjadi terutama di Bantul."Proses tanggap darurat seharusnya selesai tanggal 22 Juni kemarin. Tetapi uangnya turun sedikit demi sedikit mau bagaimana lagi, ya pasti molor," kata Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X seusai menjadi pembicara refleksi satu bulan gempa di Gedung Pusat UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (27/6/2006).Sultan mencontohkan masih banyak warga desa yang belum menerima dana tersebut. Living cost sebesar Rp 90.000 per bulan per jiwa dan bantuan beras 10 kilogram saat ini baru menyentuh 60 persen dari seluruh wilayah yang terkena bencana.Menurut dia, proses recovery khususnya pembangunan kembali rumah-rumah warga yang rusak saat ini juga molor. Masih banyak puing-puing reruntuhan rumah juga belum bisa dibersihkan. Bahkan mereka juga masih tinggal di tenda-tenda karena masih trauma."Kita berharap tanggap darurat bisa selesai akhir bulan ini. Dan kita juga berharap dana untuk pembangunan rumah dari pemerintah pusat seperti yang dijanjikan Rp 30 juta per rumah itu ada kejelasan karena sampai saat ini juga belum jelas," ujar Sultan.Meski dana pembangunan rumah untuk warga belum ada kejelasan, Sultan mengharapkan living cost yang disalurkan kepada warga bisa terselesaikan lebih dulu. Sebab bila tidak akan menimbulkan keresahan."Untuk dana pembangunan rumah kita memang belum bicara lagi. Tapi living costnya dulu saja diselesaikan," pintanya.Sultan menambahkan saat ini pihaknya sedang mengupayakan pembangunan rumah darurat untuk memindahkan pengungsi dari tenda. "Yang penting bagaimana caranya penduduk ini pindah dulu dari tenda ke tempat yang lebih aman," ujarnya.Sementara itu berdasarkan data di lapangan sampai hari ini, bantuan living cost di Kabupaten Bantul dari 17 kecamatan yang terkena bencana baru 10 kecamatan yang mendapatkan bantuan. Sebanyak tujuh kecamatan lainnya seperti Sewon, Banguntapan, Kretek, Sedayu, Sanden, Srandakan dan Kasihan belum menerima.Di Kabupaten Bantul dari total kebutuhan dana Rp 70 miliar saat ini yang sudah diterima baru Rp 39 miliar. Sedang sisanya sebesar lebih kurang Rp 30 miliar untuk tujuh kecamatan belum diterima sebagaiannya dana bantuan living cost.Sampai saat ini jumlah korban yang meninggal akibat gempa di Bantul tercatat 4.143 jiwa. Rumah roboh dan rusak berat masing-masing 71.000 lebih sedang rusak ringan 73.000 lebih. Dari 446 gedung Sekolah Dasar (SD) 311 gedung roboh/rusak berat, 135 rusak ringan.Gedung sekolah SMP 47 rusak berat 49 rusak ringan. Gedung sekolah SMA 29 rusak berat tujuh rusak ringan. Selanjutnya gedung Puskesmas 15 rusak berat, 14 rusak sedang, tujuh rusak ringan. Puskesmas Pembantu 39 rusak berat, 17 rusak sedang, 16 rusak ringan. Sebanyak 18 pasar tradisional rusak berat.
(ahm/)











































