Harga Bahan Bangunan di Yogyakarta Melonjak

Harga Bahan Bangunan di Yogyakarta Melonjak

- detikNews
Selasa, 27 Jun 2006 17:50 WIB
Bantul - Sebagian warga Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta yang tertimpa bencana gempa bumi mulai merevonasi rumah yang hancur. Karena permintaan meningkat, harga bahan bangunan di Yogyakarta juga ikut melonjak. Hampir semua material bahan bangunan mulai dari pasir, batu bata, batako, semen, kayu, seng, genting dan bambu mulai naik sejak dua minggu lalu. Bahkan harga peralatan pertukangan seperti sekop, gergaji, palu dan sebagainya juga ikut naik.Berdasarkan pantauan detikcom di beberapa toko bahan bangunan, harga pasir sebelum terjadi gempa satu truk sekitar Rp 350 ribu. Saat ini bisa mencapai Rp 450 ribu - Rp 500 ribu/truk. Demikian pula dengan batako yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 1.200-Rp 1.400/buah, kini dijual dengan harga Rp 1.600/buah.Bambu apus ukuran besar biasanya dijual dengan harga Rp 5 ribu/ batang, saat ini dijual dengan harga Rp 6-8 ribu/ batang. Bambu apus gunung yang biasanya dipakai atap reng saat ini dijual dengan harga Rp 6 ribu/batang. Sebelumnya hanya dijual dengan harga Rp 4 ribu/batang. Sedang bambu Ori untuk tiang rumah dari Rp 20 ribu menjadi Rp 30 ribu/batang. Harga gedek anyaman bambu sebelumnya sekitar Rp15 ribu/ lembar, sekatang naik Rp25 ribu/ lembar.Sementara untuk bahan material bangunan lainnya seperti besi otot ukuran paling kecil, sebelumnya Rp 20 ribu/buah, kini naik menjadi Rp 24 ribu/buah. Sedang harga semen tidak banyak mengalami kenaikan. Semen yang dijual dipasaran dengan harga bervariatif mulai dari Rp 27 ribu hingga Rp 35 ribu/zak."Saat ini sudah naik dari Rp 220 ribu menjadi Rp 250 ribu per seribu buah," kata Mulyono pembuat batu bata di Desa Jambidan Banguntapan Bantul kepada detikcom, Selasa (27/6/2006).Menurut dia, harga tersebut masih dari sawah atau dari pembuat, belum masuk ke toko-toko bangunan. Sedang di toko-toko bangunan harganya bisa mencapai Rp 300 ribu per seribu buahnya. Padahal harga bata merah sebelum gempa masih berkisar Rp 200 ribu per seribu buah. "Kalau saat ini ada kenaikan karena permintaan banyak tapi dipasaran tidak ada. Lagi pula bahan baku untuk pembakaran yakni kayu dan damen(jerami) padi juga susah didapat," katanya.Dia mengatakan produksi bata merah dari Pleret dan Banguntapan saat tidak ada yang dijual ke luar daerah. Karena untuk mencukupi wilayah Bantul dan sekitarnya saja saat ini tidak mencukupi. Batu bata yang ada saat ini sudah dipesan warga sekitar. Bahkan banyak warga yang sudah memsean ke pembuat meski belum berproduksi."Sejak terjadi gempa, baru seminggu lalu kami membuat bata lagi. Dan saat gempa banyak bata yang sedang dibakar yang rusak atau tidak jadi," katanya. (jon/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads