UN Dorong Munculnya Kecurangan
Selasa, 27 Jun 2006 12:51 WIB
Jakarta - Ujian Nasional (UN) tidak mendongkrak mutu pendidikan nasional. Sebaliknya, UN justru mendorong munculnya berbagai kecurangan karena gengsi sekolah.Demikian disampaikan Koalisi Pendidikan dalam jumpa pers di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jl Kalibata Timur VI, Jakarta Selatan, Selasa (27/6/2006).Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah guru SMA di Jakarta. Mereka memberikan testimoni mengenai berbagai kecurangan yang mewarnai pelaksanaan UN di sejumlah sekolah. Menurut mereka, kecurangan-kecurangan tersebut dilakukan untuk mendongkrak gengsi sekolah dan daerah.Werdiyanti, guru SMP 271 Jakarta Barat, mengaku mendapati seorang siswa yang membawa jawaban UN saat ujian berlangsung. Peristiwa itu terjadi saat dirinya bertugas mengawasi pelaksanaan UN di SMP 229."Kebetulan saat saya menghampiri seorang siswa jatuh secarik kertas berisi jawaban. Saya sudah berikan kertas tersebut kepada pihak sekolah tetapi tidak ada tindak lanjutnya," kata Werdiyanti.Kecurangan lain juga diungkapkan Kamal Fikri, guru SMAN I Cilegon. Menurutnya, siswa di sekolah tersebut diberikan jawaban UN lewat layanan pesan singkat (SMS)."Adanya iming-iming predikat kelulusan tertinggi melahirkan perjokian dari oknum guru. Kecurangan ini juga untuk mendorong gengsi sekolah. Kepala sekolahnya pun mendukung," kata Kemal.Dalam kesempatan yang sama, koordinator Koalisi Pendidikan Lody Paat mengatakan, sistem UN saat ini tidak bisa menjadi indikator siswa tersebut kompeten atau tidak. Sistem UN saat ini hanya mementingkan output saja."Padahal juga ada input dan proses. Padahal yang seharusnya digarisbawahi adalah proses tersebut. Jadi sistem pendidikan yang ada saat ini tidak bisa meningkatkan mutu pendidikan," tegas Lody.
(djo/)











































