Sebulan Pascagempa, Warga Bantul Masih Tidur di Tenda

Sebulan Pascagempa, Warga Bantul Masih Tidur di Tenda

- detikNews
Selasa, 27 Jun 2006 11:21 WIB
Bantul - Tepat sebulan peristiwa gempa bumi yang menghancurkan rumah-rumah di Bantul dan Klaten, ribuan warga Bantul masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.Tenda-tenda darurat tersebut pada umumnya dibangun di sekitar rumah mereka masing-masing, baik ukuran besar maupun kecil. Mereka memilih tetap tinggal di tenda sambil menjaga harta bendanya. Apalagi sampai saat ini pembersihan puing-puing bangunan belum selesai dan masih banyak barang berharga milik warga berserakan di halaman rumah.Pantauan detikcom, Selasa (27/6/2006), aktivitas warga korban gempa di kota Yogyakarta dan Bantul sebagian besar masih membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan rumah. Pemandangan itu terlihat di wilayah Kecamatan Umbulharjo, Kotagede, Banguntapan, Sewon, Plered, Jetis, Imogiri, Bambanglipuro, dan kecamatan lainnya di wilayah Bantul. Sementara untuk bangunan fasilitas umum sepeti gedung sekolah, masjid dan tempat ibadah lainnya sudah ada yang mulai diperbaiki, meski hanya tambal sulam atau darurat saja. Seperti tampak di Kecamatan Sewon dan Banguntapan.Hingga saat ini, warga korban gempa bumi di Bantul masih membutuhkan bantuan relawan untuk membersihkan puing rumah mereka. Seperti diungkapkan Sudiharjo, Warga Dusun Sudimoro, Desa Timbulharjo, Sewon, Bantul, mengungkapkan membutuhkan bantuan relawan untuk membongkar rumahnya yang sudah tidak layak huni."Sebab bila hanya dilakukan satu dua orang, bisa lama sekali. Sementara tetangga tidak bisa dimintai bantuan karena juga sibuk mengurus rumah masing-masing. Bila dilakukan secara gotong-royong dengan 15 sampai 30 orang, mungkin hanya 2-3 hari reruntuhan sudah bisa bersih," katanya.Meski sebagian besar warga masih membersihkan puing-puing bangunan, sejumlah warga sudah ada yang mulai membangun rumah darurat atau sementara. Rumah itu berukuran jauh lebih kecil dari rumah sebelumnya. Dibangun dengan bahan kayu dan dinding triplek tebal atau papan. Namun jumlahnya masih sangat sedikit. Sebagian besar warga masih tinggal di tenda-tenda. (jon/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait