ADVERTISEMENT

Kolom Hikmah

Perkataan

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 19 Agu 2022 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Ucapan atau perkataan yang baik seperti yang di firmankan dalam surah Ibrahim ayat 24-26 yang berbunyi, " Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan perkataan yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabb-nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan perkataan yang buruk adalah seperti pohon yang buruk, yang dicabut akar-akarnya dari bumi sehingga tidak dapat tegak sedikit pun."

Kalimah thayibah ( ucapan yang baik ) menurut ahli tafsir adalah la illaha illallah. Yang berarti kalimah tersebut adalah tauhid itu sendiri. Ibnu Abbas berkata," Kalimah thayibah adalah la illaha illallah. Sedangkan pohon yang baik adalah hati orang mukmin."


Perkataan/ucapan yang baik adalah setiap perkataan yang enak dan lembut, tidak kasar dan keras. Ucapan yang baik itu sendiri merupakan bentuk sedekah.

Ucapan yang baik di sisi manusia dan diridhai Allah Swt, maka ucapkanlah dengan lembut, pilihlah kata-kata yang tepat untuk diungkapkan. Yaitu kata-kata yang disukai oleh pendengarnya, karena berisi kebaikan, kelembutan dan hikmah. Maka dapat kita simpulkan bahwa, ucapan yang baik memiliki tiga sifat sebagai berikut:
- Lunak dan lembut.
- Kata-kata yang tepat.
- Disukai pendengarnya.

Lunak dan lembut adalah kata yang tidak kasar dan keras. Sebagian ulama berpendapat bahwa, di antara perkataan yang lembut adalah menyebut nama seseorang yang menjadi teman bicara dengan nama gelaran yang disukainya. Siapapun yang menjadi teman bicara, kata-kata yang diucapkan harus lembut. Adapun dasar legitimasi tentang keharusan menggunakan perkataan yang lembut adalah firman-Nya kepada Nabi Musa as dan Nabi Harun as, ketika Allah Swt. memerintahkan keduanya untuk mendakwahi Fir'aun dalam surah Thaha ayat 43-44 yang berbunyi, "Pergilah kalian berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia berbuat tiran. Maka katakanlah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, barangkali ia bisa ingat atau takut."

Kepada seorang tiran yang zhalimpun Allah Swt. menyuruh utusannya untuk berkata-kata lembut. Mengeluarkan ucapan yang lembut mesti dilandasi oleh sikap sabar dan tidak emosi. Tatkala kita bersama teman bicara, kadang kala kita mengikuti emosi atas sifat-sifat teman bicara tersebut. Kelembutan ucapan tidak akan menghasilkan rasa sakit dan marah, namun mendatangkan rasa simpati.

Memilih kata-kata yang tepat itu bukan sekedar menjauhi dari perkataan kotor dan keji, karena sudah jelas kalau seorang muslim dilarang berbicara keji dalam keadaan serius maupun canda. Ingatlah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abdullah bin Mas'ud Nabi Muhammad Saw. bersabda, " Orang beriman itu bukan pencela, bukan pelaknat, dan bukan orang yang berbicara keji dan kotor."

Perkataan yang baik bagi seorang muslim dalam berkomunikasi dengan saudaranya merupakan sedekah baginya. Hal ini akan dicatat dalam buku amal kebajikannya dan akan ditimbang, bagi yang berat timbangannya akan beruntung sedangkan yang ringan timbangannya akan merugi. Imam Muslim meriwayatkan hadis dari sahabat Abu Huraira ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, " ....... Perkataan yang baik adalah sedekah."

Kita tidak perlu sangsikan kalau perkataan yang baik itu akan disukai oleh orang yang mendengarnya, dan setiap muslim dituntut agar mengungkapkan perkataan yang baik agar disukai teman bicaranya.

Kehidupan saat ini yang makin komplek sehingga tekanan emosional ikut mempengaruhi perkataan yang keluar. Menjadi tidak mudah menerapkan perkataan yang lembut, kata-kata yang tepat dan senang didengar bagi teman bicaranya. Saat ini fitnah bukan dihindari, justru menjadi senjata untuk menjatuhkan lawan. Nyinyir menjadikan kita sering mendapatinya dalam keseharian. Ungkapan yang bersifat negatif selalu membawa aura negatif, hal ini sebenarnya merugikan secara individu maupun kolektif dalam bermasyarakat.

Pada tahun 2022 ini merupakan awal atau pemanasan sebagai tahun politik menuju pemilu legislatif, pilpres dan pilkada secara serentak. Pernyataan yang santun tentunya diharapkan mayoritas masyarakat, debat dengan tidak mengedepankan saling menyalahkan, saling mencela dan saling menjatuhkan. Begitu indahnya jika agenda debat diisi dengan saling menunjukkan keunggulan atas kemampuan dengan malu dan santun. Karena membanggakan diri apalagi dengan kepongahan merupakan perbuatan yang harus dijauhi oleh seorang muslim. Maka ingatlah nasihat para Ulama, " Janganlah kau tukar yang kekal lagi abadi dengan yang fana." Jadilah seorang muslim dalam setiap kata yang diucapkannya senada dengan setiap perbuatan yang dikerjakannya. Islam menjadikan landasan karakternya yang spesifik dan karakter itulah yang akan menjadikan zhahir ( meninggalkan kemunkaran menuju keshalihan ) seorang muslim sebagaimana batinnya, tanpa mengenal kemunafikan, sehingga amaliahnya sesuai dengan perkataannya, dan perkataannya senada dengan keyakinannya.

Jika setiap muslim mempunyai komitmen dalam perkataan yang lembut, tepat kata-katanya dan menyenangkan bagi teman bicaranya, maka keindahan hubungan dalam masyarakat akan tercipta. Penulis berharap para pemimpin negeri dapat menerapkannya, sehingga kesejukan suasana selalu tercipta. Bukannya membuat bingung masyarakat yang mendengarkannya. Semoga Allah Swt. selalu menjaga kita semua dalam perkataan maupun perbuatan tidak menyimpang dari ajaran-Nya.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT