Banda Aceh Kini (2)
Inflasi Tinggi, Sewa Rumah Mahal
Senin, 26 Jun 2006 10:05 WIB
Banda Aceh - Uang yang beredar di Aceh saat ini memang cukup banyak. Ini menjadi salah satu penyebab tingginya inflasi di Aceh, terutama di Banda Aceh. Harga-harga barang menjadi mahal, termasuk harga sewa rumah dan rumah toko (ruko). Menurut Pimpinan Bank Indonesia (BI) Banda Aceh, Tabrani Hilmi Ibrahim pada wartawan beberapa waktu lalu, besarnya peredaran uang, tingginya permintaan barang yang didatangkan dari luar Aceh, harga-harga yang melambung, menimbulkan inflasi yang sangat tinggi. "BRR Aceh saja, setiap bulannya menghabiskan sekitar Rp 1,3 triliun untuk membeli berbagai bahan kebutuhan bangunan," kata dia mencontohkan. Tak heran jika tingkat inflasi yang terjadi di Banda Aceh sepanjang Mei 2006 lalu tertinggi di Indonesia, sebesar 3,14 persen. Bahkan tingkat inflasi selama setahun (Mei 2005 - Mei 2006), di Banda Aceh telah mencapai 26,88 persen. Harga-harga di Banda Aceh memang di atas normal. Tengok saja harga rumah dan sewa rumah yang gila-gilaan. Satu rumah sewa dengan bangunan permanen yang memiliki tiga kamar, biasanya bertarif Rp 3 - 4 juta setahun kini baru bisa disewa jika punya uang sedikitnya Rp 10 juta. Sedangkan rumah-rumah besar yang masih berdiri kokoh di beberapa kawasan yang tak terjamah gelombang tsunami lazim disewakan dengan harga di atas ratusan juta rupiah, bahkan ada yang mencapai Rp 1 - 2 miliar lebih. Para penyewa umumnya badan-badan PBB, NGO-NGO asing dan perusahaan-perusahaan yang membuka kantor cabangnya di Banda Aceh. Akibatnya, harga rumah yang biasa-biasa saja dengan sendirinya terkatrol. "Saya tidak mampu lagi menyewa ruko tempat usaha saya sekarang ini. Dulu sebelum tsunami, harga sewa ruko tiga tingkat ini Rp 7 juta setahun. Dan waktu itu beberapa minggu sebelum tsunami, saya sewa selama 2 tahun. Akhir tahun ini sewanya akan berakhir dan sepertinya saya tidak mampu menyewanya," aku Mala (31), salah seorang warga Banda Aceh yang membuka usaha rumah makan di Jalan Daud Beureueh, pada detikcom, Senin (26/6/2006). Bagaimana tidak. Menurut Mala, si pemilik ruko menaikkan harga sewa rukonya menjadi Rp 40 juta pertahun. "Itu sudah murah. Karena ruko di sebelah ini sewanya Rp 75 juta setahun," ujarnya menunjukkan ruko sebelahnya yang disewa oleh salah satu operator selular. Bangun Manufaktur Masih menurut Tabrani Hilmi Ibrahim, pemerintah seharusnya membangun berbagai manufaktur material bangunan untuk menekan tingginya inflasi. Karena jika tidak, inflasi akan sulit ditekan. "Jadi, barang-barang material bangunan di sini tidak lagi didatangkan dari luar," katanya. Tapi agaknya tak cukup manufaktur material bangunan. Karena kebutuhan pokok seperti sembako umumnya didatangkan dari Medan, Sumatera Utara. Banyak juga barang-barang kebutuhan lainnya yang didatangkan dari Pulau Jawa. Sebagai wilayah yang paling ujung, biaya transportasi menjadi salah satu pemicu tingginya harga. Tapi keadaan ini berbanding terbalik jika kita menyusuri wilayah di pinggiran pantai. Meski sudah terlihat bangunan rumah-rumah bantuan, masih ada juga para korban tsunami yang mendiami tenda-tenda pengungsian. Barak-barak pengungsian tak terurus dan kumuh, menjadi pemandangan yang jamak.Sudah satu setengah tahun pasca gempa dan tsunami meluluhlantakkan tanah berjejuluk Serambi Mekkah ini. Perubahan memang ada, pembangunan juga terlihat. Tapi agaknya masih jauh dari harapan.
(asy/)











































