Diserbu Mobil Baru & Resto Western

Banda Aceh Kini (1)

Diserbu Mobil Baru & Resto Western

- detikNews
Senin, 26 Jun 2006 09:53 WIB
Banda Aceh - Jika ke Banda Aceh, berdirilah sekejap di bundaran Simpang Lima, atau susurilah Jalan Panglima Polem. Pasti nyaris tidak akan terlihat tanda-tanda kota di ujung Sumatera itu pernah disapu tsunami. Mobil-mobil model terbaru hilir mudik, restoran cepat saji dan kafe bermunculan, ramai dikunjungi. Peredaran uang yang cukup banyak, barang-barang kebutuhan yang didatangkan dari luar Banda Aceh jadi menu sehari-hari. Tak heran jika kemudian, tingkat inflasi di Banda Aceh menjadi yang tertinggi di Indonesia. Restoran-restoran bercita rasa 'luar negeri' juga muncul bak jamur di musim hujan. Seperti restoran ala Turki, restoran steak, dan makanan ala western lainnya. Bahkan beberapa di antaranya berdiri di kawasan yang termasuk rusak parah ketika dihantam tsunami. Restoran-restoran serta kafe-kafe itu tak hanya menawarkan makanan dan minuman yang menggoyang lidah, tapi juga jaringan internet Wi-fi. Wuih! "Coba kamu pesan udang goreng tepung mayonnaisenya. Lezat sekali, bahkan di Jakarta sekali pun aku tak pernah menemukan yang enaknya seperti di sini," ujar Dian pada detikcom, Senin (26/6/2006). Dian, warga Jakarta yang tengah bekerja sama dengan salah satu badan PBB di Aceh. Masuk ke salah satu restoran yang menyajikan makanan ala western dan Cina ini seperti tidak tengah berada di Banda Aceh. Bagaimana tidak. Selain menu yang disajikan, hampir 80 persen pengunjung restoran di Jalan Teuku Umar, Banda Aceh itu adalah orang-orang asing yang tengah bekerja di berbagai lembaga yang berperan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Selain makan dan berbincang, umumnya pengunjung tempat makan seperti ini makan sambil membuka laptopnya. Pemandangan yang sama juga bisa kita temukan di berbagai restoran lainnya yang bertaraf 'internasional'. Selain orang-orang asing, 'wajah-wajah lokal' juga lazim ditemui. Tapi tentu saja mereka yang berkantong tebal. Bagaimana tidak, harga-harga yang ditawarkan sebanding dengan mutu dan pelayanan tempat tersebut. Bagi warga asing yang tengah bekerja di Aceh hal tersebut bukan suatu masalah. Begitu juga penduduk lokal yang bekerja di berbagai badan dunia dan juga NGO. Pendapatan mereka perbulan di atas standar gaji normal di kota-kota Indonesia pada umumnya. Masalah hanya timbul pada para pekerja yang berpendapatan tetap dan normal. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads