ADVERTISEMENT

Waket MPR Ajak Anak Muda Hidupkan Kearifan Lokal buat Atasi Krisis Iklim

Atta Kharisma - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 14:49 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat mengikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan tema ‘Reinvensi Keindonesiaan Kita, Kepemimpinan Keindonesiaan dan Patriotisme dalam Indonesia Pascapandemi’ di Gedung Nusantara IV, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, di Senayan, Jakarta (11/6).
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan generasi muda harus mampu mengedepankan kearifan lokal untuk menjawab ancaman krisis akibat perubahan iklim global. Menurutnya, segala upaya untuk menekan dampak krisis akibat perubahan iklim global harus didukung dan segera direalisasikan.

"Upaya untuk terus menggali kearifan lokal dalam menjawab tantangan krisis yang dipicu perubahan iklim global, harus konsisten dilakukan untuk menekan potensi krisis yang lebih besar pasca pandemi," ujar Lestari dalam keterangannya, Jumat (12/8/2022).

Hal ini ia sampaikan dalam Rakornas BMKG secara virtual, Senin (8/8) lalu. Rerie, sapaan akrab Lestari, mengatakan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia sejak masa lampau dalam menjaga kelestarian lingkungan harus terus diterapkan dalam upaya mencegah kerusakan lingkungan yang dapat memperparah dampak perubahan iklim global.

Ia mengungkapkan sejumlah kearifan lokal sebenarnya dapat diadopsi dan diandalkan untuk mencegah kerusakan lingkungan. Berbagai upaya, tegas Rerie, seperti gotong-royong, tidak membuang sampah sembarangan, mendaur ulang sampah, pemanfaatan alam sesuai kebutuhan dan penghijauan harus menjadi perhatian segenap bangsa untuk didukung realisasinya.

Rerie pun menegaskan berbagai upaya yang mengarah pada kepentingan rakyat banyak wajib didukung sebagai bentuk nyata solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat.

Ia menambahkan pengetahuan dan praktek tradisional yang diterapkan oleh komunitas lokal menjadi kunci mencegah kerusakan keanekaragaman hayati sekaligus mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Untuk dapat mewujudkan itu semua, terang Rerie, dibutuhkan peran generasi muda sebagai kelompok masyarakat yang paling tepat untuk menghidupkan kembali kearifan lokal dimiliki Indonesia untuk mencegah ancaman lingkungan akibat perubahan iklim global.

Kendati demikian, Rerie mengatakan pelaksanaannya harus diarahkan oleh para pemangku kepentingan melalui sejumlah kebijakan agar kearifan lokal yang dimiliki bangsa dapat dimanfaatkan secara aktif. Hal ini mengingat ancaman kerusakan lingkungan dapat meningkat sewaktu-waktu sebagai dampak dari aktivitas manusia itu sendiri, seperti polusi udara akibat kendaraan bermotor dan sampah yang mayoritas berasal dari sisa aktivitas manusia.

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo dalam Rakornas BMKG mengingatkan perubahan iklim yang berada dalam kondisi kritis saat ini merupakan tantangan nyata bagi semua pihak pasca meredanya pandemi COVID-19.

World Meteorological Organization mencatat perubahan iklim dan dampaknya pada 2021 semakin memburuk. Tahun 2021 diketahui mencatatkan suhu terpanas selama tujuh tahun terakhir.

Badan Pangan Dunia bahkan memperkirakan lebih dari 500 juta petani usaha kecil yang memproduksi lebih dari 80% sumber pangan dunia adalah kelompok paling rentan terhadap perubahan iklim.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT