ADVERTISEMENT

Kolom Hikmah

Wara'

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 08:01 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Seseorang belum mencapai kesempurnaan takwa kecuali dengan menghindari segala bentuk perkara yang syubhat dan dosa-dosa kecil. Wara' merupakan perbuatan untuk menghindari segala hal yang tidak pantas, tidak sesuai, dan tidak perlu. Berhati-hati (menghindari) terhadap hal-hal yang diharamkan dan dilarang.

Seorang spiritualis mengatakan bahwa wara' adalah, " Tidak pernah lalai dari Allah Swt. meski hanya sekejap." Setiap menjalankan roda kehidupan seseorang yang beriman tanpa sekejap pun selalu mendekatkan diri dan selalu ingat pada Allah Swt. Umat Islam sudah mengenal wara' sejak masa awal Islam yang biasa dikenal dengan istilah " Khair al-Qurun " ( kurun terbaik ).

Pada masa tabi'in dan tabi'it tabi'in, wara' menjadi dambaan paling tinggi bagi setiap mukmin. Pada masa itu dikisahkan saudara perempuan Bisyr al-Hafi mendatangi Imam Ahmad bin Hanbal lalu berkata, " Wahai Imam, sesungguhnya kami biasa menggulung wol di loteng rumah kami. Lalu lewatlah di dekat kami lentera yang dibawa para petugas negara sehingga cahayanya mengenai kami. Apakah kami boleh tetap menggulung wol dengan memanfaatkan cahaya lentera para petugas itu?" Kemudian Imam Ahmad menjawab, " Siapakah gerangan engkau, wahai wanita afakillah?" Wanita itu menjawab, " Aku adalah saudara perempuan dari Bisyr al-Hafi." Maka seketika itu juga Imam Ahmad menangis lalu berkata, " Dari rumah kalianlah muncul sifat wara' yang benar, jadi janganlah engkau menggulung benang menggunakan cahaya lentera para petugas itu."

Menghindari sesuatu yang belum jelas pada masa kini tidaklah mudah, urusan makanan yang halal dalam sarapan pagi di hotel bintang lima juga masih mengkhawatirkan. Makanan yang halal dan haram ( mengandung babi ) telah dipisahkan, namun apakah perlengkapan dapur seperti pisau, wajan, tempat cuci piring telah terpisah?

Penulis khawatir hal itu masih tercampur, maka lebih baik hindarilah makanan yang belum tahu persis ke halalannya. Apalagi urusan mencari rezeki, tentu bagi seorang beriman hendaknya mendapatkannya dengan cara halal dan thoyyib. Sebetulnya seorang pemimpin muslim mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dengan membuat regulasi agar masyarakat merasa nyaman, tidak khawatir pada sesuatu yang syubhat dan jelas membedakan yang halal dan haram. Seorang pemimpin hendaknya memberi petunjuk kepada rakyatnya ke jalan kebenaran, membimbing mereka pada kebaikan dan menerangi alam semesta dengan cahaya Islam. Dengan sikap wara' seseorang pemimpin maupun rakyat biasa akan selamat dan tidak tergelincir pada kehinaan.

Dikisahkan pada masa Nabi Saw. di Madinah tiada pemuda yang lebih kaya dari Malik bin Tsa'labah al-Anshari. Saat itu sang pemuda mendengar Nabi Saw. membacakan firman Allah Swt. " Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan di jalan Allah Swt, maka beritahukan kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih." ( QS. at-Taubah : 34 ).

Seketika ia pingsan mendengar ayat tersebut. Saat sadar ia menemui Nabi Saw. dan bertanya, " Demi Ayah dan Ibuku, Ya Rasulullah, ayat ini untuk orang yang menimbun emas dan perak?"

Nabi Saw. menjawab, " Ya Malik."

Maka Malik pun berkata, " Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh pada sore hari ini, Malik tak akan punya lagi dirham dan dinar."

Benar, sebelum sore tiba ia telah menyedekahkan seluruh hartanya.

Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita semua, seorang Malik yang sangat khawatir terhadap penggunaan hartanya tidak di jalan Allah Swt. dan setelah memperoleh konfirmasi dari utusan-Nya maka seluruh hartanya ia sedekahkan. Hal ini menjadi bertolak belakang dengan kondisi masyarakat saat ini yang cenderung menjadi budak materialis, lebih senang berbuat dari hawa nafsu dan syahwatnya. Jika seseorang berhasil mendapatkan kemenangan dalam tertarungan pilkada, niscaya ia telah banyak mengorbanan hartanya ( ongkos yang mahal untuk meraih posisi kemenangan ).

Apakah ia akan bersikap Wara' dalam menjalankan fungsinya? Tentu jawabannya sulit sekali. Ongkos demokrasi yang mahal dan kecenderungan kehidupan masyarakat yang materialis, tentu kurang sesuai dengan falsafah negeri ini. Artinya ada yang kurang pas norma-norma kehidupan ini, untuk itulah sekiranya sikap elite dapat mengevaluasi terhadap tata kehidupan maupun system demokrasi yang saat ini dipilih.

Menghadirkan system demokrasi tentu bertujuan untuk menjadikan rakyat makmur, karena pemimpin dipilih rakyat langsung dengan harapan akan membela kepentingan pemilihnya. Semoga para calon pemimpin atau pemimpin yang beriman dapat bersikap wara' agar membawa kemakmuran dan kebaikan dunia akhirat.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT