Pemda & Masyarakat Palembang Bingung Tentukan Simbol Daerah
Minggu, 25 Jun 2006 00:05 WIB
Palembang - Sebuah daerah dapat dicirikan dengan sebuah simbol. Kota Yogyakarta misalnya, dapat didentikkan dengan Tugu Yogya, Jawa Barat dengan pisau kujang, Sumatera Barat dengan rumah gadangnya.Sementara pemerintah Kota Palembang dan masyarakatnya hingga saat ini masih kebingungan mencari simbol sebagai identitas daerahnya.Padahal kota ini memiliki sejarah yang panjang, bahkan pernah menjadi pusat peradaban terbesar di Nusantara pada masa kerajaan Sriwijaya. Begitu pula saat dikuasai oleh Kesultanan Palembang.Tokoh-tokoh masyarakat di kota ini masih berbeda pendapat dengan pilihan simbol tersebut. Ada yang menginginkan Masjid Agung sebagai simbol, ada pula yang menginginkan Jembatan Ampera karena telah dikenal hingga manca negara.Gubernur Sumatra Selatan, Syahrial Oesman, saat memberi sambutan dalam penutupan pameran Sriwijaya Expo dan City Expo, Jumat 23 Juni, di Pelataran Benteng Kuto Besak, Palembang, dengan tegas mengakui kebingungannya."Kita tidak tahu, apakah Ampera, Mesjid Agung atau Kantor Ledeng Walikota menjadi lambang Palembang. Nah, saya minta ada satu bentuk wujud dari salah satu objek di atas hingga setiap orang yang melihat dapat tahu, souvenir itu lho dari Palembang," kata Syahrial.Menanggapi kebingungan Gubernurnya, penyair termasyhur Palembang Jajang R Kawentar berharap Masjid Agung lah yang dijadikan lambang daerah. Masjid Agung dinilainya menjadi penanda sejarah dan kebudayaan Palembang."Palembang dibangun wong Islam, jadi sangatlah tepat bila Masjid Agung menjadi simbol kota ini," kata penyair Jajang R. Kawentar, Sabtu (24/6/2006).Dalam pandangan Jajang, tidak tepat adanya pendapat bahwa simbol Masjid Agung bertentangan dengan semangat pluralisme. Dikatakannya, posisi Masjid Agung adalah seperti gereja-gereja tua di sejumlah kota tua di Eropa. "Inilah hanya penanda sejarah dan kebudayaan," katanya.Sementara jembatan Ampera, kata Jajang, lebih menujukan karakter Palembang setelah kemerdekaan. "Itu hanya simbol Palembang di masa kemerdekaan, sebab Ampera hanya terkait dengan imperalisme Jepang di Indonesia," katanya.Bagaimana dengan Gedung Ledeng yang kini dijadikan kantor Walikota Palembang? "Ya, itu kan simbol imperalisme Belanda. Bila gedung itu dijadikan ikon Palembang. Artinya kita dalam bayang-bayang penjajahan Belanda," katanya.Berbeda dengan Jajang, pekerja seni Anwar Putra Bayu lebih sepakat jika Jembatan Ampera yang dijadikan simbol Kota Palembang. Alasannya, jembatan ini mencerminkan semangat pluralitas yang mengakomodir seluruh masyarakat Palembang."Kalau saya setuju jembatan Ampera. Sebab Ampera itu lebih pluralis, sehingga dapat mewakili semua warga Palembang yang beragam ini," kata pekerja seni Anwar Putra Bayu, Sabtu (24/6/2006).Selain itu, kata Bayu, Ampera juga sudah dikenal di manca negara."Itu juga menunjukan semangat baru wong Palembang di era kemerdekaan. Beda dengan Masjid Agung dan Kantor Ledeng yang memiliki semangat masa lalu dan terlalu mewakili masyarakat muslim," katanya.
(fjr/)











































