Awan Panas Merapi Menurun, Lava Pijar Masih Dominan
Sabtu, 24 Jun 2006 12:20 WIB
Yogyakarta - Jumlah luncuran awan panas yang turun ke sektor selatan Gunung Merapi menurun. Sementara selama beberapa hari terakhir hingga hari ini, Sabtu (24/6/2006) pagi, guguran lava pijar masih dominan mengarah ke hulu Kali Gendol menuju wilayah Kabupaten Sleman."Awan panas yang turun agak menurun, tapi guguran lava pijar masih sering. Itu menandakan aktivitas Merapi masih tinggi," kata Kepala Seksi Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BBPTK) Subandriyo di Yogyakarta.Menurut dia, dominannya guguran lava pijar ke arah Kali Gendol diakibatkan semakin lebarnya jalur magma yang ada di puncak Merapi setelah beberapa kubah lava runtuh. Dengan demikian, magma yang keluar dari dapur magma langsung turun ke bawah tanpa ada penahan lagi.Berdasarkan laporan petugas yang ada di pos pengamatan Deles Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang Klaten, Jawa Tengah yang berjarak sekitar 6 kilometer dari puncak di sebelah timur Kali Woro, kata Subandriyo, awan panas yang teramati secara visual sebanyak 3 kali. Awan panas tersebut terjadi sekitar pukul 01.30 hingga 04.30 WIB."Jarak luncur mencapai 3,5 kilometer ke arah hulu Kali Gendol," katanya.Sedangkan berdasarkan data catatan seismograf, awan panas yang tercatat sebanyak 5 kali. Tidak teramatinya secara visual beberapa awan panas yang muncul karena cuaca di sekitar puncak berkabut, meski suara gemuruh terpantau melalui sinyal yang terpasang di punggung Gunung Merapi.Secara umum, guguran lava pijar memang masih dominan dibandingkan awan panas. Guguran lava pijar yang yang terpantau secara visual dari Pos Kaliurang sebanyak 12 kali ke arah hulu Kali Krasak. Jarak guguran lava pijar sejauh 2 kilometer. Sedangkan ke arah hulu Kali Gendol sebanyak 51 kali dengan jarak maksimal 1 kilometer.Hasil rekaman seismograf menunjukkan selama 6 jam pada hari Sabtu ini pukul 00.00-06.00 WIB tercatat gempa multifase sebanyak 5 kali.Selanjutnya gempa guguran sebanyak 89 kali, dan gempa tektonik 1 kali, sedangkan gempa vulkanik tidak terjadi. Tinggi asap solfatara teramati dari Pos Jrakah Boyolali sekitar pukul 05.52 WIB mencapai 1,5 km dari puncak, berwarna putih tebal dengan tekanan sedang.
(sss/)











































