Di Pekanbaru, Guru Juga Bocorkan Jawaban UN
Jumat, 23 Jun 2006 16:32 WIB
Pekanbaru -
Tingkat kelulusan SLTA di Riau memang cukup memuaskan, mencapai 96,3 persen. Namun, kelulusan murid di Riau boleh dibilang tidak murni. Ini karena para murid mengaku menerima bocoran jawaban atas soal ujian nasional (UN) hingga 50 persen. UN memang telah berakhir. Namun di balik semua itu, ditemukan kecurangan saat UN digelar. Sejumlah murid SLTA kepada detikcom, Jumat (23/6/2006), mengaku mereka bisa lulus justru dibantu guru di sekolahnya sendiri. Misalnya saja murid sebuah di Pekanbaru. Sejumlah siswa mengaku, saat ujian berlangsung, mereka sudah dikondisikan oleh gurunya untuk menerima bocoran jawaban. Ketika ujian berlangsung, awalnya para murid tetap dibiarkan berkonsentrasi untuk mengisi soal ujian. Namun selang 15 menit kemudian, salah seorang murid telah dikondisikan untuk keluar dari ruangan. Murid ini menemui gurunya di ruangan WC. Di dalam WC itu, sang guru telah memberikan jawaban sebanyak 25 soal. "Satu lokal minimal 4 orang murid telah dikondisikan guru untuk mengambil jawaban di ruang WC. Jawaban itu ditulis dalam secarik kertas kecil. Selanjutnya, guru tadi memerintahkan kita untuk dibagi ke teman-teman lainnya," kata siswa yang enggan dicantumkan namanya. Kisah yang hampir sama juga terjadi di sebuah SMA swasta di Pekanbaru. Para guru membantu kelulusan muridnya. Dua hari menjelang UN, guru di sekolah itu sudah memberikan pengarahan bagaimana mengambil bocoran soal atau jawaban. "Kalau kami, waktu ujian Matematika, guru memberikan jawaban sebanyak 22 soal lewat SMS. Jawaban itu kami terima 15 menit setelah berlangsung ujian. Masing-masing lokal ada 3 murid yang pegang HP khusus menerima soal jawaban," kata salah seorang siswa. Tidak cuma sekolah swasta yang berlaku demikian. Para guru di salah satu SMU negeri juga melakukan hal yang sama. Mereka memberikan bocoran jawaban pada siswanya. Ini sebagai bentuk kekhawatiran guru bila murid-muridnya tidak lulus. "Kata guru, kalau kami tidak dibantu mengisi soal UN, diperkirakan banyak yang tidak lulus. Tapi, memang tidak semuanya, minimal guru memberikan bocaran soal 50 persen. Selebihnya kami sendiri yang menjawab soal tersebut," kata salah seorang siswa.
(asy/)










































