ADVERTISEMENT

Video 20Detik

Dampak Perubahan iklim, Udang Tambak di Brebes Gagal Dipanen

Imam Suripto - detikNews
Selasa, 09 Agu 2022 11:20 WIB
Jakarta -

Perubahan iklim telah membuat petani bawang merah di Brebes, Jawa Tengah harus alami kerugian hingga ratusan juta. Petambak juga alami kerugian cukup besar akibat perubahan iklim karena harus panen lebih awal

Salah satu yang terdampak langsung dari perubahan iklim adalah budidaya udang vaname atau panaeous vanamee. Zaki Syafrudin (51 tahun) petambak asal Desa Sawojajar, Wanasari mengaku alami kerugian yang cukup besar, mencapai ratusan juta.

Delapan areal tambak berisi udang vaname berumur 45 hari tiba-tiba mati mendadak. Matinya udang ini terjadi setelah tambak milik Zaki diguyur hujan selama beberapa hari.

"Kemarin udang delapan petak baru umur 45 hari mati. Saat itu memang hujan intensitas tinggi dan tiap hari hujan. Akhirnya daya tahan turun dan kena virus," ujar Zaki.

Tidak sedikit petambak di Kabupaten Brebes yang mengalami kerugian karena cuaca yang tidak menentu saat ini. Para petambak ini sama sekali tidak mengira akan terjadi hujan intensitas tinggi pada bulan bulan Juni dan Juli. Karena pada periode tersebut biasanya sudah memasuki musim kemarau dan sangat cocok untuk budidaya udang. Akibat curah hujan tinggi itu lah, udang yang sedang dibudidaya tiba-tiba mati secara massal.

Budidaya udang atau bandeng, kata Zaki butuh sinar matahari. Sehingga bila diguyur hujan terus menerus akan muncul virus pengganggu udang dan bisa menyebabkan kematian massal.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Brebes, Yulia Hendrawati menyebut, periode Juni dan Juli seperti sekarang ini, biasanya sudah masuk musim kemarau, tapi pada kenyataannya masih turun hujan. Sehingga selain terkena bakteri dan jamur, tanaman juga terserang hama ulat.

Anomali cuaca juga berdampak pada munculnya banyak hama atau OPT (Organisme Penyerang Tanaman). Dia mencontohkan, musim hujan, jenis OTP atau hama yang menyerang adalah bakteri dan jamur (fungi). Kemudian di saat kemarau, hama yang menyerang adalah ulat dan sejenisnya.

"Dampak perubahan ini sangat dirasakan petani. Karena produktivitasnya menurun drastis. Ini disebabkan oleh adanya OPT (hama) ganda. Kalau iklimnya normal, ketika musim panas maka OPT-nya adalah ulat atau serangga. Kalau musim hujan hama yang ada biasanya bakteri dan jamur. Tapi karena iklim tidak menentu ada panas ada hujan maka yang menyerang adalah dua-duanya," beber Yulia.

Yulia menjelaskan biasanya produksi bawang merah untuk bulan Juni - Juli pada tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 11 - 12 ton per hektar. Akibat perubahan iklim maka pada periode sekarang hanya menghasilkan 7 ton per hektar. Sementara untuk komoditas cabai, saat ini hanya bisa mencapai 7 ton tiap hektar, padahal sebelumnya bisa lebih.

Selain hama, dampak perubahan iklim yang ditakuti petani adalah adanya banjir pada musim kemarau. Pada 16 Juli kemarin, kata Yulia, tanaman bawang di daerah Kecamatan Wanasari tergenang banjir. Sehingga banyak tanaman yang gagal panen.

(isf/isf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT