ADVERTISEMENT

Video 20Detik

Perubahan Iklim Nyata, Sentra Bawang di Brebes Terdampak

Imam Suripto - detikNews
Selasa, 09 Agu 2022 10:18 WIB
Jakarta -

Perubahan iklim yang sedang berlangsung memiliki dampak yang cukup luas. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini telah menyebabkan kerugian bagi petani dan nelayan tambak. Salah satu dampak perubahan iklim menyebabkan produksi pertanian dan perikanan di Brebes, Jawa Tengah, juga ikut anjlok.

Perubahan iklim ini sangat dirasakan dampaknya oleh para petani bawang merah di Kabupaten Brebes yang merupakan sentra bawang merah. Brebes merupakan penghasil bawang merah yang menyumbang 18,5% produksi nasional. Bahkan komoditas bawang merah Brebes telah diekspor ke Thailand dan Singapura.

Komoditas yang merupakan unggulan bagi warga Brebes biasanya dipanen pada Juni-Agustus. Namun, perubahan iklim telah menyebabkan petani menanggung kerugian yang cukup besar akibat berubahnya pola musim hujan ini.

Seperti yang dialami beberapa petani di Kecamatan Wanasari pada Juli 2022, petani Brebes beramai-ramai menanam bawang merah. Bagi petani, bulan Juli merupakan saat yang sangat bagus untuk budi daya bawang merah. Alasannya, bulan itu biasanya tidak turun hujan karena sudah masuk musim kemarau.

Tapi pada kenyataannya, hujan di kawasan itu turun dengan intensitas tinggi. Sekitar 60 hektare lahan bawang berumur 45 hari di beberapa desa di Kecamatan Wanasari, terendam banjir. Akibat banjir ini, petani terpaksa memanen dini tanaman bawangnya dan menjual dengan harga murah. Langkah ini diambil petani untuk meminimalkan kerugian akibat banjir. Karena bisa dipastikan, tanaman bawang akan gagal panen bila terendam air.

"Meskipun usia bawang belum matang, petani terpaksa memanen lebih dini untuk menyelamatkan hasil bawang merahnya meskipun hasilnya kurang maksimal. Kalau dibiarkan terendam sampai dua hari, bawang akan busuk," kata Juwari (56), seorang petani bawang merah asal Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari.

Menurut Juwari, mulai Juni biasanya sudah masuk musim kemarau. Namun pada kenyataannya, hingga Juli hujan masih terjadi dengan intensitas yang tinggi. Karena banjir inilah, petani banyak yang menderita kerugian besar. Jika dihitung, kerugian petani dalam satu hektar lahan tanaman bawang rata-rata Rp 130 juta.

"Kalau banjir seperti ini, lahan seluas satu hektar yang siap panen milik petani merugi sampai Rp 130 juta. Padahal, perkiraan di bulan-bulan ini biasanya tidak turun hujan dengan intensitas tinggi, tapi ternyata intensitasnya tinggi. Memang, ini anomali cuaca yang membingungkan petani, karena bulan Juli harusnya sedang kering," jelasnya.

Ditemui terpisah, Masrukhi Bachro, Ketua HKTI Kabupaten Brebes, menjelaskan sebenarnya tidak hanya bawang merah, komoditas lain, seperti padi, cabai, semangka, dan melon, juga ikut terdampak. Namun karena sebagian petani saat ini menanam bawang, yang tampak mengalami kerugian adalah petani bawang.

(isf/isf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT