UN Jadi Patokan Kelulusan, Bangsa Ini Mau Apa?
Jumat, 23 Jun 2006 15:17 WIB
Jakarta - Ujian nasional (UN) menjadi satu-satunya patokan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk meluluskan siswa sekolah menengah. Padahal, proses belajar di sekolah tingkat SMA memerlukan waktu 3 tahun. Tapi, mengapa kelulusan hanya ditentukan dalam waktu 2-3 hari saja? Bangsa ini mau apa? Inilah pendapat Ketut Wikantika, pengamat pendidikan yang juga dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam e-mailnya ke redaksi detikcom, Jumat (23/6/2006). Menurut Ketut, penentuan kelulusan siswa hanya berdasarkan nilai Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang harus di atas nilai yang telah ditentukan adalah sangat naif. "Coba bayangkan, itupun hanya dinilai hanya dalam waktu 2-3 hari! Nasib siswa hanya ditentukan dalam hitungan hari, padahal proses belajarnya memerlukan waktu 3 tahunan," tulis Ketut. Ketut mencurigai 'sistem pendidikan' dasar dan menengah di Indonesia ada yang salah. Bahkan sistem pendidikan pra sekolah (taman kanak-kanak) dan play group sekalipun. Menurut dia, kecerdasan seseorang tidak hanya dinilai dari kecerdasan logik saja. Masih banyak kecerdasan lain yang perlu dibina dan dibentuk oleh sistem pendidikan. "Jangan heran kalau nanti ada seorang siswa pada masa sekolah dasarnya mempunyai kecerdasan logik yang kurang, tetapi ketika di perguruan tinggi menjadi mahasiswa dengan tingkat kecerdasan logik mengagumkan dan kecerdasan lainnya yang berimbang," tulis Ketut.Ada apa dengan sistem pendidikan kita? Ketut mengaku ragu semua pihak untuk serius mencari penyebabnya. Kalaupun mencari, itu dilakukan secara parsial, tidak secara menyeluruh. Ironisnya, 'modus' yang tidak sehat mulai ditengarai dilakukan oleh para pendidik agar siswanya bisa melewati UN. Cara yang paling gampang yang dapat dilakukan oleh Depdiknas dalam menentukan kelulusan seseorang adalah dengan cara pembobotan. Artinya bisa saja nilai UN diberi bobot yang paling besar, tetapi nilai yang didapat siswa selama 3 tahun tetap diperhitungkan.Sementara pembaca detikcom, Bambang, merasa prihatin dengan banyaknya siswa yang sudah diterima di perguruan tinggi ternama, namun ternyata tidak lulus UN. "Kalau sudah begini, siapakah yang patut disalahkan, Perguruan Tinggi kah? Atau calon mahasiswa itu sendiri"," tulis dia dalam e-mailnya. Bambang meminta sistem penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi dipikirkan ulang. Sistem 'ijon' yang dilakukan sekarang (menerima mahasiswa baru, sebelum lulus SMA), sebaiknya dihentikan. "Kami Turut Prihatin bagi anak anak SMA yang telah di terima di Perguruan Tinggi Namun kandas di jalan lantaran tidak lulus dalam satu pelajaran. Mohon direnungkan untuk pemerintah mendatang," demikian Bambang.
(asy/)











































