Dugaan Kerusakan Ligkungan di Sinjai Makin Menguat

Dugaan Kerusakan Ligkungan di Sinjai Makin Menguat

- detikNews
Jumat, 23 Jun 2006 07:24 WIB
Jakarta - Dugaan terjadinya kerusakan lingkungan yang mengakibatkan banjir bandang di Sinjai, Sulawesi Selatan makin menguat. Bencana yang terjadi di Sinjai tidak bisa semata-mata hanya dilihat dari faktor cuaca saja. Tapi juga karena faktor lingkungan."Kalau masalah bencana ya harus dikaitkan dengan daya dukung lingkungan di sana," kata Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Ahmad Zakir Achmad Zakir kepada detikcom, Jumat (23/6/2006).Menurut Zakir hujan yang turun di Kabupaten Sinjai yang mengakibatkan banjir bandang di Sinjai adalah hujan orografis. Hujan jenis biasa terjadi di daerah pegunungan seperti Sinjai.Angin dari timur, menurut Zakir, naik karena terhalang gunung kemudian menimbulkan sirkulsi udara yang akhirnya menimbulkan uap air yang menimbulkan hujan. "Ini hal biasa tahun-tahun lalu juga terjadi hal itu," katanya. BMG meramalkan cuaca di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan untuk dua hari ke depan akan cerah. Sedangkan untuk satu minggu ke depan hujan akan turun pada sore hari namun hanya hujan kecil. "Bukan berarti musim kemarau tidak turun hujan, hujan bisa turun kapan saja," ujarnya.Dugaan terjadinya kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar di Sinjai juga dikemukakan Walhi. Penebangan hutan secara liar dan alih fungsi lahan mengakibatkan prahara air bah dan longsor.Kementerian Lingkungan Hidup pun hingga kini masih menghitung kerusakan lahan di SInjai. Jika ditemukan adanya pembalakan liar, Kementerian LH berjanji membawa pembalak ke jalur hukum.Sementara itu Menhut MS Kaban mengingatkan sekitar 238 daerah aliran sungai dalam kondisi kritis. Kondisinya mirip Sinjai, sehingga perlu mewaspadai ancaman banjir. DAS yang kritis tersebut terdapat di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Di Papua dan Kalimantan, kondisi DAS masih cukup baik sehingga peluang banjir besar kecil. Dapat ditebak, Jawa merupakan pulau yang kondisinya paling kritis. (ddn/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads