77 Siswa SD Semarang Keracunan Susu Produgen

77 Siswa SD Semarang Keracunan Susu Produgen

- detikNews
Kamis, 22 Jun 2006 16:30 WIB
Semarang - Meski gratisan, tetaplah berhati-hati mengonsumsi produk-produk bermerek. Kalau tidak, Anda atau anak Anda bisa keracunan sebagaimana dialami 77 siswa SD di Semarang setelah menyedot susu Produgen Chocomax. Peristiwa yang membuat pihak SD Petompon 5, 6, dan 7 Semarang sempat pontang-panting itu terjadi Kamis (22/6/2006). Mereka langsung mengundang Puskesmas Peganda, Dinas Kesehatan, dan BPOM untuk menangani siswa yang mual dan muntah setelah mengonsumsi susu tersebut. Kejadian itu bermula ketika siswa sedang beristirahat. Tanpa basa-basi, begitu melihat ada promosi susu di sekolahnya mereka langsung menyerbunya. Namun beberapa saat kemudian, sejumlah siswa merasa mual dan sebagian muntah. "Susunya beda dengan yang saya minum sebelumnya. Rasanya agak kecut, baunya juga agak lain," tutur siswi korban keracunan sambil berjalan meninggalkan sekolahnya. Pihak sekolah yang baru saja rapat mendatangkan tim medis dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Satu kelas jadi ruang perawatan dadakan. Tak hanya itu, kejadian itu membuat orang tua siswa berdatangan mengecek kondisi anaknya. Kepala SD Petompon 7 Supadmi menyatakan, susu promosi itu kelihatannya tidak kadaluwarsa. Ketika bungkusnya diteliti, tanggal kadaluwarsa susu tersebut adalah Agustus 2006. "Tapi ya saya tidak tahu. Nyatanya, siswa-siswi kami merasa mual dan muntah setelah mengonsumsi susu tersebut. Siswa yang tidak mengonsumsi, tidak apa-apa tuh," katanya. Sementara itu, salah satu sales diperiksa di Polsek Gajah Mungkur. Sedangkan, beberapa sales lain mengaku bahwa susu tersebut sudah disebarkan ke 14 SD di Semarang dan tak ada efek negatif apa pun. "Ya hanya di sini. Promosi produk baru ini dilakukan sejak 5 Juni lalu. Semuanya baik-baik saja," kata salah satu sales susu, Bagus Maryanto. Susu Produgen Chocomax disalurkan melalui PT Tiga Raksa Semarang yang beralamat di Jl. Terboyo Industri 6 No 7. Para SPG yang terlihat panik menyatakan, pihak penyalur maupun produsen pasti akan bertanggung jawab atas kejadian itu. (nrl/)


Berita Terkait