ADVERTISEMENT

Pejabat Senior Pertamina Balongan Didakwa Korupsi Proyek Fiktif Rp 8,1 M

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rabu, 03 Agu 2022 16:33 WIB
Sidang dakwaan kasus korupsi pengadaan software fiktif di anak perusahaan PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Serang
Sidang dakwaan kasus korupsi pengadaan software fiktif di anak perusahaan PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Serang. (Bahtiar Rifa'i/detikcom)
Serang -

Pejabat senior di PT Kilang Pertamina International Univ VI Balongan didakwa melakukan korupsi proyek software fiktif senilai Rp 8,1 miliar. Terdakwa atas nama Dedi Susanto selaku Pjs Senior Manager Operation and Manufacturing didakwa bersama empat orang lain termasuk dari swasta.

Di sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor Serang, Dedi didakwa bersama Sabar Sundarelawan sebagai Presiden Direktur PT Indopelita Aircaft Service (IAS), Singgih Yudianto sebagai Finance and Business Support Director PT IAS, Imam Fauzi selaku Vice President PT IAS, dan Andrian Cahyanto dari PT Aruna Karya Teknologi Nusantara (AKTN). PT IAS sendiri merupakan anak perusahaan PT Pertamina Persero.

Pada sidang dakwaan, jaksa penuntut umum (JPU) Subardi mengatakan terdakwa Dedi, Sabar, Singgih, dan Imam menggunakan jabatannya untuk menerbitkan Surat Perintah Kerja (SPK) pada 29 Juli 2021 atas spesifikasi beberapa pekerjaan software di Kilang Pertamina Balongan ke PT AKTN. Atas pekerjaan itu, terdakwa Andrian menjanjikan commitment fee Rp 500 juta ke Sabar, Rp 500 juta ke Singgih, Rp 3 miliar dan Rp 485 juta ke Dedi, dan Rp 120 juta ke Imam Fauzi.

"Terdakwa Dedi, Sabar, Singgih, Imam secara sendiri-sendiri dan bersama-sama menyetujui dan memerintahkan pembayaran SPK 29 Juli ke PT AKTN padahal pekerjaan itu belum ada kontrak induk dan tidak pernah dikerjakan atau fiktif," kata Subardi, Rabu (3/8/2022).

JPU Subardi mengatakan proyek fiktif itu telah memperkaya terdakwa Dedi dan empat terdakwa lain. Rinciannya adalah terdakwa Dedi senilai Rp 3,4 miliar, Sabar Rp 500 juta, Singgih Rp 500 juta, dan Imam Rp 120 juta.

Selain terdakwa, ada saksi Ratna Sari diduga menerima Rp 1,6 miliar dan terdakwa Andrian Cahyanto Rp Rp 1,9 miliar.

"Jumlah itu yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 8,1 miliar sesuai laporan tim internal audit PT Pertamina Persero," kata Subardi.

Perkara Proyek Software Fiktif

Subardi mengatakan perbuatan para terdakwa ini bermula dari terdakwa Sabar yang bertemu dengan terdakwa Andrian yang membahas kerja sama bisnis bidang teknologi informasi khususnya digitalisasi kilang. Pertemuan itu dilanjutkan dengan dibuatnya MoU antara PT IAS sebagai anak perusahaan Pertamina dengan PT AKTN.

Proyek ini juga ditawarkan kepada saksi Djoko Priyanto selaku Direktur PT Kilang Pertamina Internasional. Kerja sama bisnis dua perusahaan ini pun disambut baik.

Simak selengkapnya pada halaman berikut.

Saksikan juga 'Penampakan Truk Pertamina Kecelakaan di Semarang, 1 Orang Tewas':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT