Korban UN Berjatuhan: Putriku Kini Shock & Selalu Termenung

Korban UN Berjatuhan: Putriku Kini Shock & Selalu Termenung

- detikNews
Kamis, 22 Jun 2006 10:00 WIB
Jakarta - Beberapa hari belakangan ini, sejumlah abege di Tanah Air dilanda depresi. Fakta bahwa mereka tidak lulus Ujian Nasional (UN) membuat mental mereka anjlok. "Sekarang anak saya shock berat dan mengungsi ke rumah kakaknya," curhat Marsono, seorang bapak yang anak putri bungsunya tidak lulus UN.Astri, putri Marsono, layak shock karena selama bersekolah di jurusan IPA, dia selalu mendapat ranking. "Yang sangat menyakitkan hatinya dan membuat dirinya shock, adalah ketika hasil ujian nasional diumumkan, anak saya dinyatakan tidak lulus karena nilai yang diperoleh Bahasa Indonesia 8,60; Bahasa Inggris 8,00 dan Matematika 4,00," tulis Marsono dalam e-mailnya pada redaksi detikcom, Kamis (22/6/2006).Kenyataan itu membuat Astri bersedih dan memutuskan untuk mengungsi karena di lingkungan tempat tinggalnya ada 12 anak yang sebaya dengan anaknya (tetapi lain sekolah) dan semuanya lulus. "Mereka tidak yakin kalau Astri tidak lulus. Karena Astri dikenal sebagai anak pandai dan keberhasilannya sebagai murid yang selalu menduduki ranking kelas di sekolahnya diketahui oleh teman-temannya di tempat tinggal kami. Astri juga aktif pada berbagai kegiatan di lingkungan kami dan menjadi salah seorang pengurus (Bendahara) Karang Taruna," beber Marsono. Informasi yang diperolehnya dari kepala sekolah, bahwa untuk jurusan III IPA (hanya satu kelas) dari 44 murid, yang lulus 16 orang (36,36%) dan yang tidak lulus 28 orang (63,64%). Ke-28 siswa yang tidak lulus semuanya gagal pada mata pelajaran Matematika, sedangkan untuk nilai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris rata-rata di atas 7."Sekarang Astri sedang shock dan selalu termenung. Dalam hati dia bertanya "apakah keberhasilannya selama 3 tahun menjadi rangking di kelasnya hanya jatuh karena ujian matematika selama 120 menit?" cerita Marsono. Marsono berpendapat, dalam UN tahun ini Depdiknas menerapkan dua kebijakan sekaligus yaitu standar nilai lebih tinggi dan tidak ada ujian ulang. "Semestinya harus secara bertahap, jika nilai standar lebih tinggi dari tahun kemarin kesempatan ujian ulang perlu diadakan, tetapi kalau nilai standar lebih kecil atau minimal sama dengan tahun lalu tidak perlu diadakan ujian ulang. Untuk itu wajar jika Komisi X DPR mendesak untuk digelarnya Ujian Ulang tahun ini," ungkapnya.Anda punya kisah sedih tentang para korban UN sebagaimana Marsono? Ceritakan pada kami di redaksi@staff.detik.com. (nrl/)


Berita Terkait