ADVERTISEMENT

Bareskrim Tetapkan 7 Tersangka di Kasus Penggelapan WanaArtha

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Selasa, 02 Agu 2022 14:40 WIB
Kombes Nurul Azizah
Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Nurul Azizah (Azhar/detikcom)
Jakarta -

Dittipideksus Bareskrim Polri sedang mengusut kasus dugaan penggelapan WanaArtha Life. Sebanyak tujuh orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.

"Penyidik unit 3 Subdit 5 Dittipideksus Polri telah menetapkan 7 orang sebagai tersangka dalam perkara terkait PT Asuransi Jiwa Adi Sarana WanaArtha," kata Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Nurul Azizah dalam konferensi pers, Selasa (2/8/2022).

Berikut daftar ketujuh tersangka beserta dugaan pasalnya:

1. MA, dikenai Pasal 74 ayat 1 dan ayat 2, Pasal 75, Pasal 78, Pasal 76 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian, Pasal 374 KUHP dan 345 TPPU.

2. TK, dikenai Pasal 74 ayat 1 dan 2, Pasal 75, Dan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang perasuransian.

3. YM, dikenai Pasal 74 ayat 1 dan 2, Pasal 75, dan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang perasuransian.

4. YY, dikenai Pasal 74 ayat 1 dan Pasal 75 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang perasuransian.

5. DH, dikenai Pasal 74 ayat 1 dan Pasal 75 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang perasuransian.

6. EL, dikenai Pasal 76 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang perasuransian dan Pasal 374 KUHP serta Pasal 3, 4, dan 5 TPPU

7. RF, dikenai Pasal 76 UU nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian Pasal 374 KUHP dan Pasal 3, 4, dan 5 TPPU.

Diketahui, Bareskrim Polri mengusut kasus dugaan penggelapan WanaArtha Life. Polisi mengatakan kasus ini sudah dinaikkan ke tingkat penyidikan.

"Kemudian dapat kami sampaikan juga update terkait dengan perkembangan dugaan penggelapan WanaArtha. Bahwa penanganan kasus WanaArtha sudah ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan," kata Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Gator Repli Handoko dalam konferensi pers, Jumat (17/6).

Gatot mengatakan kasus ini bermula dari tiga laporan polisi, yakni yang pertama LP B/0476.VIII.2020/Bareskrim tanggal 5 Agustus 2020. Kemudian, LP B/0606/X/2020/Bareskrim tanggal 23 Oktober 2020 dan LP B/0108/II/2021/Bareskrim tanggal 16 Februari 2021.

"Surat perintah penyidikan, nomor yang pertama adalah SP.Sidik/89/I/Res.1.24/2022/Dittipideksus tanggal 1 Januari 2022, kemudian yang kedua adalah SP.Sidik/895.XI/Res1.24/2022/Dittipideksus tanggal 25 November 2021, kemudian yang ketiga SP.Sidik/621.VII/Res1.24.2021/Dittipideksus," katanya.

(azh/dwia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT