ADVERTISEMENT

Pimpinan Komisi X DPR Sayangkan Sekolah di DIY Paksa Siswi Pakai Hijab

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Senin, 01 Agu 2022 11:07 WIB
Ilustrasi sekolah
Ilustrasi Sekolah (Foto: Getty Images/iStockphoto/smolaw11)
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi X Fraksi Golkar Hetifah Sjaifudian menyayangkan adanya pemaksaan pemakaian hijab oleh pihak sekolah terhadap siswi SMAN di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hetifah menilai seharusnya atribut keagamaan menjadi ranah individu.

"Saya menyayangkan jika memang sekolah negeri atau umum melakukan pemaksaan kepada seorang siswi untuk menggunakan atribut keagamaan di luar kehendaknya. Karena seharusnya atribut keagamaan itu menjadi ranah individu. Lain ceritanya jika sekolah agama atau madrasah yang memang memiliki aturan sendiri," kata Hetifah kepada wartawan, Senin (1/8/2022).

Hetifah lalu mengungkit Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri, yakni Menteri Agama (Menag), Menteri Dalam Negeri (Mendagri), serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang berisi aturan seragam di sekolah negeri yang mengatur soal jilbab. Hetifah menyayangkan SKB 3 menteri tersebut kemudian dibatalkan Mahkamah Agung (MA).

"Sebenarnya, tahun 2021 telah terbit SKB 3 menteri, yakni Mendagri, Menag, Mendikbud yang secara prinsip mengatur bahwa peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara seragam serta atribut tanpa kekhususan agama, atau seragam dan atribut dengan kekhususan agama. Sayangnya SKB ini dibatalkan," ujar Hetifah.

Sebagai informasi, aturan seragam di sekolah negeri yang mengatur soal jilbab dalam SKB 3 menteri dibatalkan oleh MA pada 3 Mei 2021. SKB 3 Menteri itu diteken oleh Menag, Mendagri, dan Mendikbud pada 3 Februari 2021.

Hetifah mengatakan, jika benar terjadi pemaksaan atribut keagamaan di sekolah, itu dapat menjadi tanda regulasi semacam SKB 3 menteri tersebut perlu dibahas kembali. "Jika betul ada pemaksaan, dapat menjadi tanda bahwa memang regulasi semacam SKB 3 Menteri tersebut masih perlu kita bahas bersama lagi," kata dia.

Hetifah berharap tindak lanjut yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) DIY segera memberikan solusi terbaik terkait hal ini. "Saya berharap penelusuran yang telah diinisiasi oleh Disdikpora DIY segera menemukan titik terang agar dapat memberikan solusi terbaik," ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, seorang siswi kelas X di SMAN 1 Banguntapan, Bantul, DIY, mengaku dipaksa berhijab oleh guru BK di sekolah tersebut. Akibatnya, siswi itu disebut depresi dan sampai mengurung diri.

Yuliani selaku pendamping siswi tersebut mengatakan pemaksaan itu dilakukan saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Awalnya, saat MPLS, siswi tersebut baik-baik saja dan mulai tertekan saat dipanggil guru BK.

Yuliani yang juga bagian dari Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi) DIY mengatakan saat dipanggil itu, siswi tersebut merasa terus dipojokkan. Selain itu, siswi itu dipakaikan hijab oleh guru BK.

Akibat kejadian itu, siswi berusia 16 tahun tersebut mengalami depresi. Bahkan menurut penuturan Yuliani, si anak masih mengurung diri hingga saat ini.

(fca/yld)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT