5 Rekomendasi Komnas Perempuan Supaya Pelecehan Tak Terjadi di TransJ

ADVERTISEMENT

5 Rekomendasi Komnas Perempuan Supaya Pelecehan Tak Terjadi di TransJ

Isal Mawardi - detikNews
Minggu, 31 Jul 2022 06:29 WIB
Despair. The concept of stopping violence against women and human trafficking,  International Womens Day
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Tinnakorn Jorruang)
Jakarta -

Sebuah video yang menampilkan aksi pelecehan meraba-raba penumpang TransJakarta viral di media sosial. Komnas Perempuan memberikan 5 rekomendasi supaya pelecehan tak terjadi di angkutan umum, khususnya TransJakarta.

"(Rekomendasi pertama) Setiap hari pada jam-jam padat perlu penambahan armada bus," ujar Komisioner Komnas Perempuan Rainy Hutabarat kepada wartawan, Sabtu (30/7/2022).

Menurut Rainy, pemisahan tempat duduk laki-laki dan perempuan kurang efektif pada jam-jam padat. Kondisi bus penuh penumpang, tubuh yang satu bisa saling menempel dengan tubuh yang lain.

Penumpang yang berdiri kerap tercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Kondisi tersebut bukan hanya berpotensi terjadinya pelecehan seksual, jelas Rainy, tetapi juga pencurian.

"(Rekomendasi kedua) perlu memasang peringatan berupa iklan layanan sosial di semua jenis transportasi umum, halte bus dan stasiun bus/komuter," kata Rainy.

Rainy menambahkan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan perlu disebar di berbagai transportasi publik di DKI Jakarta. Selain itu, perlu juga ada stiker-stiker anti pelecehan seksual serta petunjuk langkah yang harus dilakukan korban dan penumpang bila pelecehan seksual terjadi, salah satunya dengan nomor kontak pengaduan.

Pengawasan dari penumpang lain, seperti memvideokan aksi pelaku, juga dinilai sangat penting. Menurut Rainy, ini salah bentuk kontrol dan partisipasi publik.

Namun untuk menjaga kerahasiaan dan perlindungan korban, tutur Rainy, video sebaiknya diserahkan kepada petugas layanan pengaduan penumpang atau aparat penegak hukum.

"(Rekomendasi ketiga) CCTV dapat dipasang sebagai teknologi pendukung pencegahan pelecehan seksual di Transjakarta," tutur Rainy.

Dalam kondisi bus padat berjejal, kadang-kadang penumpang sulit melihat siapa yang berada di belakang bahkan di sampingnya. Rainy berpendapat CCTV dapat menjadi alat pelacak terhadap pelaku.

"(Rekomendasi keempat) perlu ada koordinasi lintas antara institusi transportasi publik Transjakarta dengan lembaga layanan korban dan kepolisian untuk memenuhi pengaduan korban dan hak atas pemulihan khususnya trauma psikis," tambahnya.

Rainy mengusulkan TransJakarta bermitra dengan lembaga layanan korban untuk pemulihan korban pelecehan. Terakhir ia meminta TransJakarta mengkhususkan tempat duduk untuk orang-orang dengan kriteria tertentu.

"(Rekomendasi kelima) memastikan peruntukan tempat duduk untuk lansia, ibu hamil atau membawa anak, penyandang disabilitas bahkan penumpang kurang sehat di bus Transkarta," jelas Rainy.

Selengkapnya di halaman selanjutnya

Simak Video: Terjadi Lagi! Aksi Pelecehan Seksual di TransJakarta

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT