Ginem Bersatu Lagi dengan Legiyem
Rabu, 21 Jun 2006 14:28 WIB
Jakarta - Ginem tersenyum bungah. Perempuan 60 tahun yang biasa dipanggil Bu Lik ini kini bersatu lagi dengan sang keponakan, Legiyem, setelah dipisahkan oleh gempa dahsyat 27 Mei silam.Sarmidah (40) dan Rindarsih (27) juga berbahagia karena berkumpul lagi dengan keluarganya yang terberai akibat gempa. Pertemuan ketiga orang ini dengan kerabatnya berlangsung di RS Grhasia, Yogyakarta, Selasa 20 Juni 2006.Kebahagiaan warga Bantul itu tak lepas dari kerja keras Palang Merah Indonesia (PMI) yang merilis program layanan pemulihan hubungan keluarga atau RFL (Restoring Family Links). RFL berupaya menyatukan kembali anggota keluarga yang terpisah akibat gempa, termasuk Ginem dkk."Informasi mengenai keberadaan ketiga warga tersebut kami dapat dari RS Grhasia. Identitas ketiganya ternyata cocok dengan data permohonan pencariaan orang hilang yang kami miliki," jelas Koordinator RFL PMI Pusat, Dedeh Suryani, seperti rilis yang diterima detikcom, Rabu (21/6/2006). Tim RFL PMI mendapat permohonan pencarian ketiga warga Kabupaten Bantul tersebut pascagempa bumi. Menurut keterangan para keluarga korban, ketiga anggota keluarga mereka terpisah sejak gempa 27 Mei 2006 lalu. "Sebelum gempa, adik saya baik-baik saja, tapi kini ia tidak mengenal siapa dirinya, keluarganya bahkan alamat rumahnya," kata kakaknya, Sardjiyo, yang mengetahui adiknya menderita gegar otak ringan. Melalui program layanan RFL ini, PMI berupaya agar anggota keluarga terpisah akibat bencana gempa dapat kembali melakukan kontak di antara mereka untuk memulihkan hubungan keluarga. PMI juga melakukan pendataan identitas korban meninggal serta anak-anak yang terpisah dengan keluarganya. Hingga hari ini, PMI telah menerima permohonan anggota keluarga pascagempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah sebanyak 143 permohonan, masing-masing 93 permohonan melalui PMI Cabang Bantul dan 50 melalui PMI Cabang Yogyakarta dan Sleman. Dari permohonan tersebut, PMI berhasil menyatukan kembali anggota yang terpisah sebanyak 121 keluarga, masing-masing 74 keluarga di Bantul dan 47 keluarga di Yogyakarta dan Sleman. Untuk pencarian keluarga korban meninggal yang tidak teridentifikasi, PMI hingga saat ini masih menangani 8 kasus tersebut.Sementara itu permohonan pencarian keluarga pasca gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga datang dari luar negeri yaitu Australia, Amerika Serikat, Hongkong dan Libanon. Dari empat kasus tersebut, tiga di antaranya berhasil dipertemukan PMI. Untuk layanan RFL ini, PMI mengerahkan 25 orang yang terdiri dari staf dan relawan yang terlatih dalam kegiatan RFL. Selama layanan berlangsung, PMI mendapat dukungan sepenuhnya dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Bagi masyarakat yang kehilangan kontak dengan keluarganya akibat bencana gempa ini dapat menghubungi Kantor PMI untuk melakukan permohonan pencarian anggota keluarga. Melalui jaringannya yang luas di seluruh Indonesia dan dunia, PMI akan berupaya menindaklanjuti permohonan pencarian keluarga yang diterima.
(nrl/)











































