Astaga! Tamat SD 6 Kali Gonta-ganti Bapak
Selasa, 20 Jun 2006 17:20 WIB
Pekanbaru - Selama duduk di bangku sekolah dasar, kebanyakan murid enam kali gonta-ganti nama bapaknya. Bahkan murid laki-lakinya kerap melakukan pelecehan seksual ke teman-teman perempuannya. Anak-anak siapa sih mereka?Begitulah perilaku murid SD 039 di Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Di sekolah itu terdapat 170 murid. Mereka dapat dipastikan 98 persen merupakan anak-anak dari lokalisasi Teleju.Sekolah negeri ini hanya beberapa ratus meter dari lokalisasi Teluju yang dihuni lebih dari 400 pekerja seks komersial (PSK) yang sebagian besar berasal dari tanah Jawa.Status anak-anak hasil hubungan di luar nikah ini pun berimbas pada soal siapa wali murid siswa-siswi itu.Bayangkan saja, sejak mereka duduk di kelas satu sampai kelas enam, mereka bolak-balik ganti nama bapaknya. Ini bisa terjadi karena memang bapak anak-anak itu tidak ada yang jelas."Uniknya murid-murid saya ini, selama enam tahun, bisa lebih dari enam kali ganti nama bapaknya. Tapi kami bisa maklum, karena memang bapak mereka sendiri tidak jelas," kata Kepala Sekolah SD 039 Tenayan Raya, Pekanbaru, Tengku Suef kepada detikcom, Selasa (20/6/2006) di Pekanbaru.Fenomena ini terungkap ketika sekolah ini pada hari ini menerima bantuan sumbangan pendidikan dari Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PDK) Provinsi Riau bekerja sama dengan Pemprov Riau. Sumbangan ini disampaikan Edi Ahmad RM, Sekretaris Umum Partai PDK Riau yang juga anggota DPRD Riau dari Komisi E Bidang Pendidikan.Sumbangan yang diberikan berbentuk fasilitas pendidikan, yakni buku, tas serta alat-alat tulis. Pemberian sumbangan ini dihadiri para wali murid yang berasal dari lokalisasi tersebut.Tengku Suef kembali menceritakan, soal urusan wali murid di sekolahnya ini sangat rumit. Bukan saja soal orangtuanya yang tak jelas, kebiasaan siswa pria memegang dada teman perempuannya, menjadi masalah dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar di sekolah tersebut.Kebiasaan itu, menurutnya, merupakan dampak dari kehidupan yang dirasakan dan dilihat oleh anak-anak di lokalisasi setiap hari.Mengenai hampir setiap tahun nama bapak dari muridnya selalu berganti, pada setiap akhir ujian nasional untuk mendapatkan ijazah, pihak sekolah menerapkan aturan agar orangtua murid menyediakan akte kelahiran. Ini dibutuhkan untuk mencantumkan nama terakhir dari bapak sang murid."Kalau akte kelahiran tidak bisa disediakan, kita meminta kepada wali murid untuk membawa surat keterangan dari ketua RT dan RW. Suratnya itu bertujuan untuk memastikan siapa bapak terakhirnya yang akan kita cantumkan di ijazah. Inilah cara kita untuk bisa menentukan siapa nama bapak mereka," kata Tengku Suef.Selain itu, para guru disekolah ini dalam proses belajar-mengajar harus bersuara keras. Jika bersuara lemah lembut, maka muridnya banyak yang kurang jelas mendengarkan suara gurunya."Ini karena mereka biasa mendengar musik keras-keras di lokalisasi itu," jelas Tengku Suef.
(sss/)











































