Akan ke Korut, SBY Diharap Rayu Kim ke Meja Runding Nuklir

Akan ke Korut, SBY Diharap Rayu Kim ke Meja Runding Nuklir

- detikNews
Selasa, 20 Jun 2006 16:40 WIB
Jakarta - Rencana kunjungan Presiden SBY ke Korut belum lagi dijadwal ulang. Namun Komisi Pemantau, Verifikasi dan Inspeksi PBB sudah menitip pesan melalui SBY untuk Presiden Korut Kim Jong Il.Komisi yang bekerja mencari senjata pemusnah massal itu berharap SBY dalam kunjungannya kelak ke negeri ginseng itu dapat merayu Kim kembali ke meja perundingan untuk menyelesaikan krisis nuklir.Hal ini disampaikan mantan Ketua Inspeksi Senjata PBB Hans Blix usai menemui SBY di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (20/6/2006).SBY sempat dijadwalkan mengunjungi Korut dan Korsel pada 5-7 Juni. Namun kunjungan itu ditunda lantaran musibah gempa yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei. Belum ada konfirmasi mengenai jadwal ulang kunjungan tersebut."Indonesia telah secara tradisional memainkan peranan yang baik dalam hal perlucutan senjata. Saya rasa sangatlah memberikan harapan bahwa presiden Anda akan berkunjung ke Korut. Dia mungkin memiliki pengaruh untuk memediasi apa yang terjadi sekarang," kata Blix.Menurutnya, saat ini Indonesia bersama antara lain Brasil, Jepang dan Jerman, bisa menjadi contoh bagi internasional tentang penggunaan dan pengelolaan kemampuan di bidang nuklir. Mereka secara sadar dan sukarela membatasi aksesnya terhadap pengembangan senjata nuklir."Oleh karenanya Indonesia memiliki posisi yang baik untuk berpartisipasi membimbing dunia keluar dari stagnasi perlucutan senjata. Negara saya akan senang hati ikut ambil bagian," kata pria warga Swedia yang menjadi ketua Komisi Pemantau, Verifikasi dan Inspeksi PBB pada Januari 2000 sampai Juni 2003 ini.Ditanya mengenai sikap keukeuh Iran melanjutkan program pengayaan uranium dengan alasan tiap negara punya hak yang sama untuk itu, Blix mengakui ada benarnya. Namun lain ceritanya bila negara tersebut punya kecenderungan kuat mengembangkannya sebagai senjata nuklir."Bagaimana pun punya hak bukan berarti harus menunaikannya. Apa yang dilaksanakan Iran tidak sekadar pengayaan uranium. Mereka punya kecenderungan melanjutkannya untuk mengembangkan kekuatan nuklir. Untuk menjadi negara besar tidak harus memiliki senjata nuklir," ucapnya tegas. (sss/)


Berita Terkait