Orangtua Aniek Didik Anaknya Ketat & Keras
Selasa, 20 Jun 2006 16:02 WIB
Boyolali - Aniek Qori'ah adalah sulung dari tiga bersaudara dari pasangan Hanan Anis dan Naniek Ambika. Tetangganya di Boyolali, mengatakan orangtua Aniek menutup pergaulan dengan tetangga dan menerapkan pendidikan keras kepada anak-anaknya. Rumah bercat hijau dengan pagar besi tinggi itu berada di deretan rumah yang cukup bagus untuk ukuran warga kampung Dukuh RT 12 RW 4, Kuwiran, Banyudono, Boyolali. Dari mulut jalan kampung di pinggir jalan utama Solo - Boyolali, rumah itu hanya berjarak belasan meter saja. Deretan rumah itu semula adalah persawahan yang lalu didirikan rumah oleh warga pendatang yang rata-rata merupakan pegawai atau pensiunan pejabat instansi atau perusahaan di Boyolali. Di depan rumah banyak terdapat banyak papan. Di antaranya papan praktek dokter umum atas nama dr Naniek Ambika. Ada juga papan besar penunjuk bahwa di rumah itu dibuka berbagai kursus dari belajar Bahasa Inggris, Bahasa Arab, membaca kitab dan lain-lainnya. Ada juga tulisan 'Menerima Lowongan Pekerja'. Naniek Ambika yang mantan Kepala Badan Keluarga Berencana Daerah (BKBD) Boyolali itu adalah ibu kandung Aniek Qori'ah, tersangka pembunuh tiga anak kandungnya di Bandung beberapa waktu lalu. Sedangkan berbagai kursus tersebut dibuka oleh Hanan Anis, ayah Aniek. "Semenjak pulang dari Arab sebagai TKI, Pak Anis memang membuka berbagai usaha baik itu kursus maupun menjadi pengerah jasa tenaga kerja untuk dikirim ke luar negeri," ujar Sardjito, Ketua RT setempat, Selasa (20/6/2006). Tertutup Rapat & EksklusifKetika didatangi, pintu rumah keluarga Anis tersebut dalam kondisi tertutup rapat. Demikian juga gerbang pintu gerbangnya. Namun menurut Sardjito kondisi seperti itu bukan hanya karena keluarga itu sedang menghadapi masalah karena kasus Aniek di Bandung. "Setiap harinya bahkan sebelum kejadian mengagetkan yang dilakukan Mbak Aniek, rumah Pak Anis memang sering tertutup. Buka kalau sore bersamaan dengan buka praktek dokter Bu Naniek, itupun rata-rata pasiennya juga tidak banyak," papar Sardjito. Rupanya ketertutupan itu juga dilakukan penghuni rumahnya. Para tetangganya bahkan mengatakan sejak dahulu keluarga Anis, termasuk Aniek, jarang bersosialisasi dengan warga kampung. Anis juga mendidik anak-anaknya cukup ketat dan keras. "Pak Anis sepertinya menganut keyakinan eksklusif. Dia tidak mau mendatangi hajatan warga kecuali acara aqiqah. Orangnya pendiam namun sangat rajin ke masjid. Kami tidak tahu letar belakangnya karena bukan asli warga sini. Pak Anis berasal dari Bantul, Bu Naniek dari Banyudono Kota," ujar Sardjito. Sepulang dari Arab sekitar sepuluh tahun lalu, menurut Sardjito, Anis terlihat menerapkan pendidikan ketat dan keras kepada anak-anaknya. "Saya tidak tahu apakah juga disertai kekerasan fisik atau tidak, karena memang keluarga mereka sangat tertutup," lanjutnya. Kurang KenalTentang Aniek sendiri, para tetangga juga kurang mengenal dekat. Sejak kecil Aniek jarang keluar rumah kecuali ke sekolah. Setelah lulus SMA dia lalu menetap di Bandung untuk kuliah di ITB hingga akhirnya menikah. "Seingat saya anak pertama dan kedua Aniek itu lahir di sini karena saat itu kami mendapat bingkisan daging aqiqah yang dikirim ke tiap rumah warga. Sedangkan anaknya yang ketiga mungkin lahir di Bandung," ujar istri Sardjito. Perempuan setengah baya itu juga memaparkan bahwa setengah bulan menjelang kejadian pembunuhan itu, dia juga melihat Aniek pulang ke rumah orangtuanya beserta ketiga anaknya. "Saat itu bersama suaminya apa tidak saya juga tidak tahu karena memang mereka tidak pernah keluar rumah," ujarnya. Karena ketertutupan itu, baik Sardjito maupun istrinya tidak berani memberikan kepastian apakah Aniek memiliki gangguan jiwa semenjak remaja. Yang dia berani memastikan adalah Aniek belum belum pernah membuat ulah yang meresahkan para tetangganya. Yang agak nakal justru adik Aniek yang kini menetap di Malaysia. Sedang adik Aniek lainnya, Sardjito mengaku kurang tahu. Bahkan namanya pun warga kurang mengetahuinya. "Setelah lulus SD, anak perempuan yang bungsu ini langsung dikirim ke pondok pesantren yang kami juga tidak tahu dimana tempatnya," lanjutnya.
(nrl/)











































